Bonjour!

Udah baca kan, introduction yang baru aja aku posting? (siapa juga yang bakalan mau baca, Fi. Itu kan isinya tentang kamu semua)

Percaya nggak sih, kalau menulis itu hal yang gampang-gampang-susah?

Minggu lalu, aku kebetulan lagi gak ada kerjaan sambil nunggu ekstrakurikuler, aku ke perpustakaan dan tertarik untuk baca sebuah buku tentang kiat-kiat menulis cerpen dalam waktu 24 jam.

Setelah baca buku itu, secara keseluruhan buku itu bagus karena ditulis oleh tangan kreatif seorang Donatus A. Nugroho, yang telah menulis ribuan (yakinkah?) cerpen. Isinya pun sangat menjanjikan karena meang disajikan dengan konkrit dan gampang diikuti.

Hasil akhir dari membaca buku itu, saya jadi tertantang untuk menulis cerpen lagi (oh lain kali aku bakalan posting cerpen-cerpen aku oke) dan mengirimkannya ke redaksi-redaksi.

Terus apa hubunganya sama introduction yang baru saya posting? Gak ada sih… Jadi ngalor ngidul begini kan hehehe 😀

Back to the topic, mulanya aku bingung ketika disuruh buat tulisan mengenai perkenalan diri. Well, setidaknya kita harus benar-benar mengenal diri kita sendiri kan? Maka dari itulah di sekolah, aku menulis kerangka-kerangkanya saja, dan begitu sampai di rumah, aku kembangkan menjadi tulisan yang suuuuper panjang.

Awalnya aku gak nyangka kerangka apa adanya itu bakalan jadi tulisan yang memenuhi dua halaman buku, apalagi tulisan aku besar-besar (baca: kecil-kecil). Apa ini artinya aku bener-bener mengenal diri aku sendiri?

Jelas tidak sepenuhnya. Aku gak akan bisa tahu apa aku benar sifatnya A, kalau aku gak nanya adik aku dulu. Tapi orang lain juga belum tentu mengenal aku sedetail aku mengenal diri aku sendiri.

Intinya? Cuma Allah SWT yang tau 🙂

Dalam introduction tersebut, saya menuliskan:

Perkenalkan, nama saya Shafira. Lengkapnya Shafira Bayugiri Ramadhiani. Akan tetapi, saya lebih suka dipanggil Afi.

Saya lahir di sebuah rumah bersalin kecil di pinggiran kota Bandung pada bulan Ramadhan. Saya anak pertama, sehingga orang tua saya sangat menyayangi saya dan mendidik saya dengan cukup tegas.

Aku memang lahir di rumah bersalin kecil. Dulu sih dibilangnya bidan. Bidan Ibu Djuariah. Tapi biar agak ‘keren’ aku sebut aja rumah bersalin kecil. Gak salah kan? Hehehe 😀

Pinggiran kota Bandung bukan berarti aku lahir di Cijerah, Cimahi, atau daerah yang kalau dilihat di peta, memang terletak di tepi kota Bandung. Pinggiran kota Bandung disini menunjukkan bahwa aku gak lahir di rumah sakit besar yang terkenal, mahal, dan berada di pusat kota Bandung. Kan udah aku bilang, aku lahir di bidan keren!

Yap, aku anak pertama dari pasangan Ibu Henny dan Bapak Koesnadi. Sebagai anak pertama, akulah yang pertama mendapat kasih sayang dari orang tua yang begitu aku cintai sepenuh hati 🙂 Sebagai tambahan, aku juga dididik untuk menyayangi sesama, karena mereka telah berpikir jauh, kelak aku akan menjadi seorang kakak yang harus bisa menjaga dan membimbing adiknya. Sungguh mulia orang tua itu 🙂

Orang tua saya adalah orang tua paling hebat sepanjang masa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Siapa yang tahu bahwa suatu saat mereka mempunyai anak perempuan yang dapat menghasilkan uang dari jerih payahnya sendiri?

Should we go on the next part? Well, see you there 😉

Advertisements