Some people were born special. Maybe you’re one of them.

Kata-kata mutiara tersebut aku dapat dari sebuah novel karya Sitta Karina, judulnya Imaji Terindah. Novel itu merupakan salah satu novel yang dapat membuat aku pengen baca berulang-ulang kali (selain sekuel Harry Potter).

Kenapa? Well, novel itu memang menceritakan tentang perjalanan cinta dua insan (yang memang paling banyak ditemukan di novel-novel yang beredar di pasaran). Tapi, ada banyak hal-hal menarik yang membuat aku tergoda untuk baca lagi.

Salah satunya, novel tersebut mengungkapkan banyak kata-kata yang umum, tapi sangat menusuk ke hati dan pikiran pembacanya karena kata-kata tersebut sangat mendukung jalan cerita yang disajikan secara mendalam.

Aku kagum. Jarang banget aku pinjem buku di perpustakaan dan nggak rela ngembaliinnya. Waktu itu pernah aku kembaliin ke perpustakaan (setelah dua kali baca berulang-ulang) dan buku itu hilang bagaikan ditelan sekolah… Ada yang pinjem tapi ngembaliinnya telat. Padahal waktu itu sebenernya aku pengen memperpanjang hehehe 😀

Quotes di atas memang kurang lebih bener. Aku percaya bahwa setiap manusia di dunia ini diciptakan sempurna dan mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Beberapa orang dilahirkan spesial. Mungkin kau salah satunya.

Siapa yang tahu bahwa kamu adalah orang yang sangat spesial bagi seseorang di luar sana? Siapa yang tahu bahwa kamu mempunyai kelebihan yang gak dimiliki orang lain? Siapa yang tahu?

Allah SWT tahu.

Kita cuma bisa berkata, “Mungkin kamu spesial,” “Mungkin kamu salah satunya,” “Mungkin?” “Mungkin…” dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.

 

Dan sekarang mungkin aku pengen bahas paragraf selanjutnya dari introduction

Saya telah 17 tahun menjalani hidup yang keras (benar-benar keras. Well, setidaknya saya punya alasan kuat kenapa saya bilang bahwa hidup saya sangat keras) sehingga saya tumbuh menjadi seorang anak yang mandiri, periang, dan penyayang. Namun terkadang, saya bisa menjadi sangat menjengkelkan.

Hidup itu memang keras. Gak ada yang bisa kita dapatkan kalau kita gak mau memberi. Itu hukumnya.

Aku pernah baca suatu buku terjemahan berjudul “Rahasia” karangan Rhonda Byrne yang belakangan pernah menjadi bahasan publik dan telah diadaptasi ke dalam bentuk film. Dalam buku tersebut, Rhonda menekankan bahwa alam mempunyai kekuatan untuk memutarbalikkan keadaan (oke mungkin agak bertentangan secara religius, tapi coba bayangkan kalau alam itu maksudnya Sang Pencipta).

Hukum Newton III mengenai aksi-reaksi (kayaknya aku pernah menyebutkan hal ini di artikel sebelumnya) menjelaskan bahwa gaya yang kita berikan akan sama besarnya dengan gaya yang kita terima.

Masih belum kebayang? Gini deh… Konkritnya, apa yang kita kasih, bakalan kita terima lagi dengan jumlah yang sama. Bahkan bisa aja lebih besar. Itulah yang Sang Pencipta janjikan.

Apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lakukan, baik hal positif maupun negatif, akan berbalik kepada kita sendiri. So, kita harus selalu berpikir positif dan melakukan hal yang positif kalau kita pengen kebaikan ada di pihak kita. Ini yang aku dapet dari buku “Rahasia” tersebut dan sampe sekarang masih aku inget.

 

Aku mandiri. Memang bener, karena aku percaya aku bisa ngelakuin apapun tanpa bantuan orang lain. Tapi namanya juga makhluk sosial…gak ada salahnya kan aku bilang mandiri padahal aku pakai baju buatan orang lain? Hehehe 😀

Mandiri disini dalam artian aku bisa bersikap dewasa ketika orang lain bersikap manja kayak anak kecil. Aku bisa bersikap bijaksana ketika menghadapi persoalan. Dan aku bisa pergi kemana-mana dan ngelakuin apa yang aku suka sendiri, tanpa harus ada orang lain.

Aku jarang banget minta anter orang tua ke sekolah, atau minta anter temen cuma buat liat-liat buku baru di Gramedia. Toh alhamdulillah aku masih punya dua kaki dan dua tangan yang sempurna untuk bisa berjalan sendiri, makan sendiri, dan ngiket tali sepatu sendiri.

 

Periang dan penyayang? Sure! Aku selalu berusaha untuk senyum ke siapapun yang aku mau. Buat apa Allah SWT ngasih aku bibir kalau cuma dipake buat ngomel, ngeluh, dan cemberut doang? Senyum juga ibadah, guys… Senyum aja dapet pahala! Sungguh mulia Sang Pencipta 🙂

Dari dulu, aku emang penyayang binatang peliharaan. Maksudnya yaaa~aku bukan orang yang ‘menyayangi’ binatang buas kayak buaya atau harimau? Aku suka beberapa jenis harimau, dan pernah pengen banget melihara cheetah. Tapi belum bisa kebayang karena biaya makannya aja 3 kali lipat biaya makan aku sendiri -___-”

Binatang peliharaan aku yang pertama adalah kelinci. Waktu itu umur aku 5 tahun lebih dan Papah baru pulang dari kantor, pakai jas, dan bawa kardus besar. Katanya sih hadiah buat aku dan adik aku yang umurnya baru beberapa bulan.

Waktu aku buka, yang aku harapkan sih boneka atau apalah mainan anak kecil yang lagi beken zaman itu. Ternyata isinya kelinci, warnanya putih bersih kayak salju dan matanya merah. Meskipun bukan boneka, tapi aku sukaaaaaaaaa banget sama kelinci itu. Kalau gak salah aku namain dia ‘Cici’.

Aku sering main berempat (sama adik aku dan orang tua aku) plus Cici. Cici sering naik ke belakang sepeda aku dan adik aku ngejar-ngejar di belakang. Ngggggg… Kangennya aku sama Cici 😦

Aku emang suka ngebiarin Cici main di komplek rumah aku (waktu itu aku masih tinggal di Padasuka) karena sorenya Cici pasti pulang ke rumah dan minta makan. Suatu hari, aku ngelepas Cici, dan dia gak pernah pulang lagi… 😥

Rumornya sih anak-anak sawah belakang rumah aku yang ngambil. Tapi belum ada kepastian sampe sekarang dimana Cici berada…

Setelah itu, aku jadi suka binatang. Kata orang tua aku, dari kecil punya peliharaan itu bagus, bisa menumbuhkan rasa sayang dan mandiri (BETUL SEKALI). Aku pernah punya kelinci (lagi), kucing, hamster (belasan dan selalu mati), kura-kura, dan berbagai macam ikan.

Sekarang aku masih punya Dude, kucing turunan anggora yang udah dekil tapi tetep ganteng 😀 Jarang dimandiin karena kalau kena air dikit, kukunya langsung keluar dan dia bakalan ngambek 2 hari 2 malem. Aku juga punya hamster dan kura-kura.

Well, I think it’s a long long story yet interesting, isn’t it? Kalau belum baca The Sketch Up: Part 1, baca di sini yaaa 🙂

Advertisements