In every relationship, there’s always a painful hole. That’s where impossible hopes fall into.

– Robert Smith

Painful hole. Lubang yang menyakitkan?

Well, cukup jelas kalau kita semua pasti melakukan hubungan dengan lingkungan sekitar. Keluarga, sahabat, guru, teman, pacar, bahkan musuh sekalipun. Terus, dimana letak lubang yang menyakitkan tersebut?

Pernah gak, dalam benak kalian, kalian berharap sesuatu yang sifatnya positif menghampiri kalian? Semua orang pasti pernah. Harapan-harapan indah yang ngasih kita kekuatan itu sesaat bisa bikin kita terbang dua sentimeter dari atas tanah. Harapan-harapan itulah yang bikin kita semangat ngejalanin hidup, meskipun kita sadar (atau tidak) kalau itu hanyalan imaji belaka.

Dan ketika harapan tersebut hancur berkeping-keping, bertabrakan dengan takdir Yang Maha Kuasa, harapan tersebut hilang begitu saja. Tidak. Sebagian besar dari mereka terjatuh ke dalam sebuah lubang. Jurang yang gelap, berbau lumut, dan tanpa ujung. Seolah kita tidak bisa menggapainya kembali, harapan-harapan itu jatuh ke dalamnya.

Namun… mungkin saja ada sebagian kecil dari harapan indah itu yang terselip di lubuk hati kita, yang mungkin gak pernah kita sadari.

 

Setelah introduction, sketch 1, dan sketch 2, jangan pernah bosan karena kita baru sampai sketch 3. Dan mungkin bakalan sampe sketch 21…

Saya lebih suka menyimpan perasaan saya daripada mengumbar-umbarkannya. Jadi, saya lebih memilih untuk menangis daripada marah. Menangis membuat saya memikirkan kembali apa yang telah dan akan saya lakukan.

Pemikiran ini, sejujurnya, baru aku tanamkan sejak SMA. Sejak hubungan aku dengan teman-teman SMP melonggar dan meninggalkan jarak. Kenapa?

Dulu aku punya banyak sahabat, yang aku tau dan aku yakin, kalau mereka bakalan ada kapanpun aku butuh. Bahkan waktu aku gak butuh apapun pun, mereka bakalan ada dan jadi hiburan tersendiri buat aku.

Selepas SMP, kita semua terpecah belah. Memang, ada beberapa yang satu sekolah lagi, tapi mereka kemudian punya kehidupan masing-masing… kehidupan SMA. Aku juga punya, tentu.

Tapi pernah gak kalian ada di suatu tempat yang rame, penuh sesak, tapi ngerasa kalau hati kalian bukan disitu. Hati kalian kosong, serasa sebagian isinya direnggut dan diacuhkan oleh semua orang. Pernah? Aku sering.

Setiap pulang sekolah kadang aku bingung harus kemana, sama siapa, ngapain, dan buat apa. Gak ada temen, kalau masa SMP, yang nyamperin ke kelas dan ngasih ide-ide gila tentang kemana kita harus pergi hari itu juga.

Karena dulu aku punya banyak temen, banyak orang yang bakal dengerin aku cerita tentang kejadian hari itu, aku terbiasa mengungkapkan semua isi hati aku ke semua orang. Ketawa, marah, nangis, ngeluh, semua aku tumpahin ke mereka.

Sekarang? Aku bahkan bingung yang mana yang bakalan ngedengerin aku secara fokus dan ngasih advice terbaik mereka, dan yang mana yang cuma formalitas ngedengerin dan habis itu bakalan pergi karena cerita aku dianggep gak penting. Kalau udah gitu, sorenya ketika belajar, aku akan tiba-tiba teringat dan menangis. Entah karena apa, tapi aku pikir keluh kesah aku keluar lewat air mata. Dan gak ada satu orang pun tau aku nangis. Karena aku gak cuma nangis, tapi sambil berpikir, merenungkan, dan mencari jalan keluarnya.

 

Saya rajin. Tidak terlalu pintar, tetapi rajin. Saya merasa senang jika semua hal tertata dan terorganisir dengan rapi dan teratur.

Saya suka menulis dan membaca. Saya akan menuliskan apapun yang saya pikirkan dan saya merasa tenang saat membaca.

Saya suka musik. Menurut saya, musik dapat mengubah pikiran, perasaan, emosi, sikap, sifat, ataupun cara pandang seseorang. Saya juga suka bernyanyi dan menari. Saya suka menonton film.

Sejak kelas dua SD, aku udah baca buku-buku setebel 200 halaman sebagai bacaan. Waktu itu buku itu sangat populer, Harry Potter. Membaca jadi semacam bentuk dukungan kecil untuk terus berkembang dan belajar.

Aku punya kakak sepupu, yang sekarang udah tenang di surga, yang sangat suka menulis. Aku selalu panggil dia Kaka. Dia bercita-cita menulis novel, dan akulah yang jadi editornya, jadi aku tau secara garis besar bagaimana EYD yang benar karena aku dituntut untuk itu.

Kaka suka menulis cerita panjang (meskipun kadang belum sampai 2 bab dan terbengkalai gitu aja), dan hal inilah yang sekarang jadi motivasi aku untuk terus menulis. Kaka selalu jadi panutan aku dalam segala hal, hehehe 😀

Musik, menurut aku, berkembang mengikuti zaman dan menjadi pengaruh bagi semua orang. Secara gak langsung, liriknya, ritmenya, alirannya, maupun suaranya akan mempengaruhi sedikit sel kita untuk bergerak dan bekerja mengikuti alunan lagu. Inilah yang di pikiran aku. Karena musik ada di setiap kedipan mata, tarian jemari di keyboard komputer, hentakan kaki orang-orang yang berjalan, maupun desiran angin yang melambai.

 

Well, aku harap semua yang kalian baca punya manfaat untuk kehidupan kalian. Makasih udah baca sampai sketch 3! Sampai ketemu di sketch 4~ 🙂

Advertisements