A good book on your shelf is a friend that turns its back on you and remains a friend.

Right. Sebelumnya aku pernah bilang kalau membaca buku bisa bikin aku tenang. Buku udah jadi teman baik sejak aku kelas 2 SD, dan setiap kali aku baca buku baru ataupun lama, aku selalu ngerasa masuk lagi ke dunia yang berbeda. Dan waktu bukunya selesai, antara lega, seneng, dan pengen ngulang baca lagi campur aduk.

Buku bukan cuma bahan bacaan yang aku jadiin temen dan jadi ‘pelarian’ kalau gak ada kerjaan. Tapi buku juga bisa jadi pelajaran nilai-nilai kehidupan. Kebetulah buku ‘Rahasia’ karya Rhonda Byrne adalah buku yang sangat menekankan nilai kehidupan dan banyak banget pengalaman dan motivasi yang disebarkan dalam bentuk tulisan melalui buku tersebut.

 

Saya kadang ceroboh dan pelupa: Saya lupa menjelaskan ciri fisik saya.

Saya tinggi dan hitam manis. Wajah saya berjerawat dan rambut saya agak coklat. Badan saya kurus dan hidung saya besar. Hal yang paling saya suka adalah rambut dan jari tangan saya. Jari tangan saya panjang dan lentik,sangat cukup lentik hingga dapat terus menulis dan menciptakan buku pertama saya.

Ini adalah penjelasan fisik yang bener-bener jujur. Dan aku gak nyesel. Ini semua pemberian Yang Maha Pencipta dalam bentuk sesempurna mungkin. Mana bisa aku nolak, sementara segelintir orang di luar sana punya kekurangan yang gak bisa dia tolak.

Syukur, adalah hal yang harus selalu diingat oleh setiap orang. Percaya, kalau kita bersyukur atas semua yang kita punya hari ini, kita akan dikasih ‘lebih’ sama Yang Maha Kuasa.

Berawal dari iseng ikutan jadi penulis di sebuah blog tentang Korea, tiba-tiba suatu penerbit yang cukup besar, nawarin kita menulis sebuah buku. Akhirnya akulah yang menjadi perwakilan blog tersebut untuk menulis buku.

Sungguh beruntung, Allah memberikan kelancaran untuk aku menulis. Aku gak perlu bersusah payah mengirimkan naskah ke banyak penerbit dan menunggu berbulan-bulan untuk tahu hasil naskahnya: diterima atau nggak. Bayangin! Aku DITAWARIN nulis buku? Subhanallah… Aku gak akan pernah percaya sama yang nama hoki kalau bukan gara-gara kesempatan besar ini.

Kalau dulu aku jadi editor untuk cerita-cerita Kaka, sekarang akulah penulisnya dan punya editor pribadi…

Akhirnya selama 3 bulan aku merampungkan naskah bukunya, dengan berkali-kali revisi, perubahan konsep, penambahan materi, dan pencarian materi, akhirnya naskahnya jadi dan siap dicetak.

Akhir bulan Mei 2012, editorku bilang kalau buku aku udah dicetak sebanyak 3000 eksemplar dan siap didistribusikan ke toko-toko buku di seluruh Indonesia. Bangga banget aku waktu itu! Penerbit lalu mengirimkan beberapa eksemplar contohnya. Dan akhirnya, 1 Juni 2012, buku Korean Chingu terbit 🙂

Kalau bukan karena aku suka Korea, aku gak akan ikut jadi penulis di blog Korean Chingu. Kalau aku gak ikut nulis di blog Korean Chingu, aku gak akan dipercaya untuk nulis buku. Kalau aku gak dipercaya, buku aku gak akan pernah ada. Makasih banyak buat Korean Chingu untuk semuanya. Terutama lead admin yang cerewet :-*

 

Saya suka wangi buku yang baru dilepas dari plastiknya, buku apapun itu.

Saya suka bahasa asing. Saya ingin setidaknya menguasai enam bahasa.

Saya tidak pernah lulus TK Besar dan memakai seragam wisuda TK. Saya masuk TPA dan berhenti ketika umur saya cukup untuk SD.

Novel ataupun buku pelajaran, menurut aku, punya bau yang khas. Bahkan aku hapal banget bau buku-buku sekuel Harry Potter kayak gimana. Hmmm susah ngejelasinnya, tapi yang jelas wangi buku Harry Potter kayak wangi hutan basah dalam balutan sinar matahari pagi di musim gugur, daunnya berjatuhan dengan irama dan udara pagi yang berembun. Tapi wanginya juga punya wangi misterius yang gelap dan menyedot kayak black hole…

Itu Harry Potter. Kalau buku pelajaran ya bau ilmu. Wanginya bikin kita pengen baca lagi dan lagi meskipun kita tau kalau buku itu adalah buku yang bikin bosen pembacanya 😀

Novel lainnya punya wangi khas masing-masing. Kalau menurut aku…wanginya berasal dari jalan cerita dari novel tersebut hehehe 😀

Pelajaran yang mungkin paling aku suka adalah bahasa. Well, gak selalu. Kadang aku suka Biologi dan kadang aku suka olahraga. Tapi belajar bahasa kayak belajar menggali potensi diri sendiri yang terpendam. Rasanya kayak ngorek-ngorek isi otak dan nemu bagian abu-abu yang terselip di ujung saraf otak. Interesting!

Aku pengen belajar bahasa Sunda, bahasa daerah aku sendiri sejak bahasa Sunda kurang diminati orang. Di sekolah, aku belajar bahasa Jepang, dari Jepang mau gak mau harus jadi makanan sehari-hari aku. Tapi karena aku suka Korea, aku juga sedikit-sedikit belajar dari film, drama, musik, dance, dan acara-acara yang aku tonton secara online. Dan karena aku suka Eiffel Tower, aku pengen belajar bahasa Prancis, supaya kalau aku kesana (amin) aku udah bisa bahasa Prancis hehehe 😀

Bahasa lainnya yang belum kesampean yaitu Mandarin dan Rusia. Bahasa mandarin bakalan penting kalau aku mau ‘menjajah’ Asia. Dan aku suka banget sama logat dan suara khas Rusia kalau ngomong. Khas banget. Kayak bahasa Jawa yang ada medoknya, bahasa Rusia juga punya cengkok yang ditekan di tenggorokan sehingga suara yang keluar agak sengau dan serak-serak basah.

Menarik, kan? Pengen juga belajar banyak bahasa?

 

Links:
Introduction | Part 1 | Part 2 | Part 3

 

 

 

Advertisements