By Shafira Bayugiri R.

“Kenapa, sih??? Gue kan waktu itu masih polos!” teriak Madhia keras kepada teman-temannya dan mengerutkan bibirnya. Rere dan Biru tertawa terbahak-bahak di sebelahnya. Baru saja Madhia menceritakan pengalaman hebohnya.

Rere memegang perutnya yang kesakitan karena banyak tertawa. “Habis wajah lo waktu cerita lucu banget, Dhi! Lo harus liat wajah lo sendiri deh!”

Madhia menaikkan sebelah alisnya. Gara-gara ceritanya, ia sampai membuat teman-temannya tak bisa berhenti tertawa. Cerita itu ia alami ketika ia masih menduduki bangku SMP…

***

Madhia dan Naya turun dari angkot dan segera menyebrangi jalan. Mereka masuk ke sebuah tempat bermain dengan semangat. Mereka telah menyelesaikan Ujian Nasional SMP dan sedang menunggu hasil Ujiannya keluar. Mereka memutuskan untuk bermain di Game Zone, salah satu tempat bermain di kota Bandung.

Madhia melepas kacamatanya. “Aku mau main basket, ah!” serunya sambil berlari ke tempat permainan basket, sementara Naya berlari ke tempat permainan lain. Madhia lalu memasukkan koin dan asyik tenggelam dalam permainan, tak sadar seseorang baru saja memperhatikan gerak-geriknya. Orang itu menghampiri Madhia dan bermain basket di sebelahnya.

Setelah menyelesaikan tiga babak dengan skor 76, Madhia memutuskan untuk menghampiri Naya yang sedang duduk sambil beristirahat. Tiba-tiba…

BRUKKK!!!

Tak sengaja Madhia menabrak seorang laki-laki yang sedang bermain basket di sebelahnya hingga terjatuh. Madhia buru-buru menunduk meminta maaf. “Maaf, maaf. Gak sengaja.” Katanya dengan sopan.

Laki-laki itu berdiri dengan santai dan membersihkan celana basketnya yang kotor. “Gak apa-apa, kok.” Katanya sambil tersenyum. Madhia sesaat terpesona sebelum Naya menyadarkannya dengan teriakan.

“Cieee…!” teriak Naya dari jauh, menyoraki Madhia yang salah tingkah hingga wajahnya memerah. Madhia tersenyum dan buru-buru menghampirinya.

“Apaan sih!” Madhia mencubit tangan Naya sampai mengaduh kesakitan.

“Ganteng juga.” Kata Naya, mengamati sosok laki-laki tadi dengan seksama.

“Apa?” Tanya Madhia polos, mengeluarkan tisu dari sakunya dan mengusap keringatnya.

“Itu, laki-laki yang tadi kamu tabrak. Dia pake seragam basket SMAN 53, berarti dia keren dong.” Sahut Naya sambil senyum-senyum ke arah Madhia.

Madhia mengangkat kedua bahunya. “Gak tahu, aku sih gak terlalu peduli.”

“Eh, besok kesisi lagi, yu! Kali aja dia kesini lagi!” seru Naya dengan semangat. Tiba-tiba Madhia menutup mulutnya.

“Ssst…  Dia dengar, tahu!” Madhia melotot ke arah Naya, memberikan isyarat bahwa laki-laki tadi sedang berjalan tepat di hadapan mereka berdua. Laki-laki itu berjalan menghampiri teman-temannya yang sedang duduk-duduk di Food Court tak jauh dari Game Zone.

“Hm… Sayangnya dia mainnya sama perempuan.” Kata Naya dengan nada kecewa, melepaskan tangan Madhia dari mulutnya.

Madhia berdiri sambil memakai tasnya. “Udah yuk, kita pulang. Capek.” Mereka pun pergi meninggalkan Game Zone, tak sadar bahwa laki-laki tadi sedang membicarakan mereka dengan teman-temannya.

***

Keesokan harinya, Madhia dan Naya berjanji untuk bertemu di Game Zone. Namun, Naya belum juga tampak batang hidungnya. Madhia lalu memutuskan untuk bermain duluan sambil menunggu Naya. Ia duduk di permainan balap mobil dan memasukkan koin.

“Madhia!” Tiba-tiba seseorang memanggil nama Madhia dari belakang. Madhia menoleh. Ternyata Naya. Madhia tersenyum dan buru-buru berdiri untuk menghampiri Naya. Tak sengaja ia menendang tas yang tergeletak di bawah kursi mobil di sebelahnya.

“Eh, maaf. Gak sengaja.” Madhia memungut tas tersebut dan menyodorkannya kepada laki-laki di sebelahnya.

“Kamu lagi.” Sahut laki-laki itu, mengambil tasnya dari tangan Madhia. Madhia menengadah untuk melihat pemilik tas tersebut.

‘Ha? Laki-laki yang kemarin lagi? Pake baju yang sama, lagi! Sial!’ jerit Madhia dalam hati. “Maaf…” kata Madhia, menunduk lalu meninggalkan laki-laki itu, menghampiri Naya.

“Pergi yuk, pergi.” Madhia menarik tangan Naya untuk segera pergi dari tempat itu. “Ssst… Udah deh jangan protes. Ada laki-laki yang kemarin lagi, tau. Aku malu. Ayo pergi.”

Naya mengikuti kemauan Madhia dengan wajah bingung.

Tiba-tiba seseorang menghadang mereka dari depan. “Tunggu.” Kata perempuan itu, ternyata ia salah satu teman laki-laki berseragam basket itu. “Kamu ikut aku dulu sebentar.” Katanya sambil menarik tangan Madhia pelan. Ia membawa Madhia ke tempat duduk teman-temannya.

Saat Madhia mendekat, laki-laki berseragam basket berdiri sambil tersenyum ke arah Madhia. “Kenalin, Adit.” Ia menjulurkan tangannya.

Madhia menyambutnya dengan wajah polos. “Madhia.” Sahut Madhia pelan.

Adit lalu mempersilakan Madhia duduk. Naya yang ditinggalkan di belakang menyusul dengan wajah super duper kebingungan.

Madhia menggeleng. “Engga, maaf. Aku buru-buru.” Sahutku, menggenggam tangan Naya meminta bantuan. Namun Naya ternyata lebih bingung daripada dirinya sendiri.

“Eh, tunggu dong.”  Adit menahan Madhia sambil memegang tangan Madhia. “Kalau kamu buru-buru, boleh minta nomor kamu, kan?” tanyanya penuh harap, mengangkat kedua alisnya.

Madhia memberikan nomor teleponnya tanpa ragu. Daripada ditahan di tempat itu sambil dikelilingi kakak-kakak kelas, lebih baik Madhia mengikuti apa kemauan Adit, si laki-laki berseragam basket.

Malamnya, tanpa diduga Adit menelepon Madhia. Awalnya, Madhia hanya menganggap bahwa Adit hanya ingin berteman dengannya. Namun, lama-lama Madhia tertarik juga dengan Adit, yang ternyata salah satu pemain basket yang dibanggakan sekolahnya. Setiap hari Sabtu, Madhia datang ke Game Zone untuk bertemu Adit. Tiap haripun Adit selalu menanyakan kabar Madhia lewat SMS atau telepon.

Hingga suatu hari, Madhia dan Naya pergi ke Game Zone tanpa diketahui oleh Adit dan teman-temannya. Mereka sedang menukarkan poin-poin di counter ketika seseorang menghampiri mereka.

“Hei,”  ia menepuk pundak Madhia lalu tersenyum. “Kamu Madhia ya?” tanyanya.

Madhia langsung mengenalinya sebagai salah satu teman Adit yang sering pergi bersama. Adit pernah bercerita bahwa ia memang dekat dengan perempuan dan sering pergi bersama dengan temn-teman perempuannya. Madhia dengan polos mengiyakan dan tidak pernah protes akan hal itu.

Madhia mengangguk sambil tersenyum.

“Aku Citra, teman Adit.” Citra mengulurkan tangannya, Madhia menyambutnya dengan senyum tulus. “Hm… Ngobrol dulu yuk, sebentar.” Ia mengajak Madhia untuk duduk di Food Court. Setelah memesan minuman, Citra langsung memasang wajah serius.

Madhia dan Naya terlihat begitu santai dan tidak tahu apa-apa. Citra menatap Madhia dengan serius. “Kamu suka sama Adit?” tanyanya langsung.

Madhia tercengang. Ia tidak menyangka Citra akan bertanya setajam itu. “Eng… Engga…” Madhia tergagap-gagap sambil berusaha menangkis tatapan tajam Citra.

“Eh, jangan takut gitu. Aku cuma tanya, kok. Bener nih kamu gak suka sama Adit?” Tanya Citra lagi. Kali ini tampangnya melunak.

Madhia menjawab dengan polos. “Sepertinya sih aku suka sama Adit.”

Citra tampak begitu kaget mendengar jawaban polos Madhia. Ia hanya bisa melotot sambil tercengang menatap dua anak SMP di hadapannya.

Naya memberanikan diri memecah keheningan yang menyelimuti mereka bertiga. “Memangnya kenapa?” tanyanya polos, sama polosnya dengan Madhia. Keduanya bingung dengan reaksi Citra yang terlihat berlebihan.

Citra memukul dahinya dan menggeleng-gelengkan kepala. “Kalian percaya…” ucapnya lirih. “Kalian mungkin harus tahu…” Citra tampak sedang bingung, apakah ia akan mengungkapkan semuanya atau tidak.

“Apa?” desak Madhia yang penasaran, dibantu Naya yang menatap tajam Citra.

Setelah berpikir cukup lama, Citra menghela napas panjang. “Hm… Sepertinya kalian harus tahu. Lebih cepat lebih baik, kan?” ucapnya kepada dirinya sendiri. Madhia dan Naya hanya bisa menatap tajam Citra sambil menunggu ungkapan Citra selanjutnya.

“Sebenarnya… semua yang Adit lakukan itu bohong.” Ucap Citra kemudian.

Madhia dan Naya mengerutkan kening mereka. “Maksudnya?” ujar mereka berdua bersamaan.

Kembali Citra menghela napas panjang. “Sebenarnya… Adit itu…”

Rasa geregetan di hati Madhia tak bias tertahankan lagi. Ia penasaran, sangat penasaran akan apa yang sebenarnya akan Citra bicarakan. Tentang Adit, laki-laki yang telah merebut hatinya karena sifat perhatiannya dan kemampuan basketnya.

“Perempuan.”  Kata Citra akhirnya, pelan dan tajam.

Madhia mematung. Tak bisa berkata apa-apa. Bahkan memikirkan susunan kata-katapun sepertinya ia tidak mampu. Lalu kalimat Citra selanjutnya membuat Madhia seakan diketuk oleh palu raksasa yang menghancurkan seluruh hatinya.

“Semua ini sudah jadi rencana Adit sejak pertama kali ia bertemu kamu.” Kata Citra sambil menunjuk Madhia dengan dagunya.

Madhia memejamkan mata, berusaha mencerna kalimat-kalimat Citra yang menusuk-nusuk hatinya. Ia menoleh kepada Naya, yang sama kagetnya dengan dia. Hanya saja… Naya tidak tahu rasanya jatuh cinta kepada Adit.

Citra berusaha menenangkan Madhia. “Adit itu nama panggilan dari Aditha. Memang Adit sengaja memotong pendek rambutnya karena ia sejak kecil tidak suka rambut panjang.” Suara Citra begitu santai dan lancar, sehingga tidak mungkin Madhia menuduh bahwa Citra berbohong.

Madhia berdiri. Ia lalu pergi, diikuti Naya yang terburu-buru bangkit setelah Madhia berjalan pergi tanpa berpamitan kepada Citra. Pikiran Madhia kacau. Saat ini yang ia inginkan hanya rumah, kasur, dan selimut. Madhia ingin pulang dan tidur, berharap bahwa ini semua hanya mimpi. Bahwa pertemuan ia dan Adit hanya khayalannya saja.

Malamnya, Adit menelepon Madhia seperti biasa. Namun, Madhia tidak berani mengangkatnya. Ia hanya memandang layar handphone-nya sampai dering berhenti. Kesekian kalinya menelepon, Madhia tidak juga mengangkat telepon Adit. Ia belum bisa berkata-kata.

Akhirnya Madhia memberanikan diri mengirimkan SMS kepada Adit: “Aku tahu semuanya.”  Madhia lalu mematikan handphone-nya dan mencabut kartu di dalamnya. Setelah hari itu berlalu, Madhia mengganti nomornya dan tidak pernah menghubungi Adit. Iapun tidak pernah lagi bermain di Game Zone, mengingatnya pun tidak pernah sama sekali. Pengalaman ini benar-benar menyesakkan hatinya.

***

Namun, bagi Rere dan Biru, pengalaman temannya tadi begitu menggelikan. Mata Biru masih berkaca-kaca dan kehabisan napas. Sementara Rere sudah terlihat jauh lebih tenang daripada Biru, yang sesekali masih tertawa kecil sambil memegangi perutnya yang sakit.

Madhia membenarkan posisi kacamatanya, masih mengerutkan bibirnya. “Gue kira lo semua bakal nangis waktu denger cerita gue. Kok malah jadi kayak gini, sih!” seru Madhia sambil mengaduk-aduk jus melon di hadapannya. “Lo harusnya ngerti, dong, perasaan gue waktu itu kayak gimana. Gue jatuh cinta sama tuh cewe gila! Bayangin dong, gue jatuh cinta sama cewek lesbian!”

Biru menggeleng-gelengkan kepalanya, sisa-sisa tawa masih terlihat di wajahnya. “Duh! Masih ada juga ya, cewek se-polos elo.”

Mereka diam sejenak, sebelum ketiganya tertawa terbahak-bahak. Saking semangatnya tertawa, Madhia tidak mengaja menyenggol seorang laki-laki yang sedang berjalan tepat di belakangnya.

“Eh sori, sori. Gak sengaja.” Ujar Madhia, menengadah melihat laki-laki yang ia senggol. “ADIT???!!!”

Advertisements