Hal yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan mewujudkan impian menjadi kenyataan.

Paolo Coelho – The Alchemist

Kemarin dua orang sahabat masa SMP aku dateng ke rumah dan buka puasa di rumah aku. Salah satu dari mereka, Riska, cerita tentang Kallin, temen SMP kita bertiga, yang baru pulang dari Jerman.

Kallin adalah temen SMP kita semua yang terkenal ngocol dan friendly. Setelah lulus SMP, dia daftar seleksi RSBI SMAN 3 Bandung, namun sayangnya gak keterima.

Setelah itu, dia punya keinginan yang kuat: “Aku gak masuk SMA 3, bukan berarti harus nyerah. Seengganya aku harus punya sesuatu yang bikin aku ‘lebih’ dari anak SMA 3.”

Kesukaannya sama pelajaran Bahasa Jerman di SMAN 7 Bandung bikin dia rajin ikut ekstrakurikuler Bahasa Jerman, dan dalam satu tahun ia bisa lancar cas-cis-cus Bahasa Jerman layaknya Bahasa Inggris.

Kerjasama sister school antara SMAN 7 dan salah satu sekolah di Jerman bikin Kallin tambah semangat. Dan akhirnya 4 bulan yang lalu, Kallin berhasil mewujudkan keinginan kuatnya. Ia berangkat ke Jerman dan tinggal di sana sekitar 3 bulan.

Kesibukannya gak cuma sampe disitu. Ia ditunjuk jadi seksi acara dalam sebuah acara Bahasa Jerman yang diadakan oleh kedua sister school tersebut, dan sekarang dia sibuk les Bahasa Jerman!

Cerita tentang usaha Kallin yang bener-bener bikin aku tergugah, bikin aku setengah mati mikir ulang: Apa aku bisa kerja keras kayak Kallin dalam mewujudkan keinginan aku sendiri?

Lalu Alah SWT berkata, “Man jadda wajada.” – Barangsiapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil akhirnya.

Segera setelah buka mata dari tidur sehabis shalat Subuh, aku buka laptop (mumpung gak dipake) dan berniat cari-cari beasiswa dan informasi yang bersangkutan dengan universitas.

Lalu aku nemu satu cerita yang bener-bener inspiratif, dari seorang lulusan UGM jurusan Hubungan Internasional yang mengejar impiannya dengan sungguh-sungguh.

MENGEJAR MIMPI HINGGA EROPA
Annisa Gita Srikandini

Sejak di bangku SMA saya punya cita-cita menjadi Duta Besar. Alasan nya sederhana saja; setiap kali membaca koran, saya selalu tertarik membaca berita-berita internasional. Saya sangat ingin tahu apa yang terjadi di luar Indonesia dan mempelajari bagaimana pola pikir orang-orang di luar negeri. Datang dari keluarga menengah, saya tidak berani bermimpi untuk pergi keluar negeri dengan biaya dari orang tua. Sebagai anak SMA, saya berpikir, diplomat merupakan profesi yang memberi kesempatan ke luar negeri dengan dibiayai negara.

Dari bangku SMA N 4 Yogyakarta saya mulai meretas mimpi sebagai Duta Besar. Saya mulai berpikir bahwa Jurusan Hubungan Internasional UGM adalah target saya setelah lulus SMA nanti. Namun, mengejar mimpi benar-benar tidak semanis membayangkannya. Saya paham betul tidak mudah masuk HI UGM, terutama jika lingkungan belajar di SMA tidak begitu mendukung. Saya masih ingat bagaimana saya selalu sibuk mengerjakan kumpulan soal UM UGM disaat teman-teman saya bercanda dan bolos kelas. Tidak salah, jika saya terkadang skeptis apakah perjuangan saya membawa hasil. Namun, untuk mencapai sebuah mimpi, saya kira, tidak ada pilihan lain selain bekerja keras. Malam sebelum UM UGM saya ingat betul bagaimana saya ‘menuntut’ Tuhan untuk mengubah nasib saya karena saya merasa sudah belajar keras. Dan benar saja, Tuhan tidak pernah mengingkari janjinya. Saya kemudian diterima sebagai mahasiswa HI UGM.

HI UGM
Pertanyaan pertama setelah menjadi mahasiswa HI UGM, what’s next after this? Di awal perkuliahan, saya memang sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan masa studi ini, saya berharap dapat memaksimalkan potensi diri salah satunya dengan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan ikut mendaftar beasiswa luar negeri. Secara akademis, sejak semester satu, saya merasa HI merupakan pilihan yang tepat. Saya sangat menikmati semua topik perkuliahan yang ditawarkan. Para staff pengajar HI UGM juga sangat inspiratif dalam menyampaikan topik perkuliahan. Saya tidak bisa memungkiri hal inilah yang membuat saya bersemangat kuliah. Saya pikir, ketertarikan terhadap topik perkuliahan merupakan faktor yang esensial bagi seorang mahasiswa. Dengan inilah, mahasiswa bisa bertahan ditengah banyaknya tantangan selama kuliah.

Selama menjadi mahasiswa UGM, saya aktif di beberapa kegiatan kampus melalui Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI), Bulaksumur Pos, Peace Generation – sebuah komunitas perdamaian anak muda. Dengan kegiatan extra kampus dan kewajiban kuliah, manajemen waktu menjadi hal yang sangat penting bagi seorang mahasiswa. Guna mengatur aktifitas inilah, saya selalu menggunakan buku agenda. Ini yang membantu saya tetap fokus dengan apa yang saya kerjakan karena hampir setiap hari saya menuliskan target dan to do listyang harus saya kerjakan. Check list ini membantu juga untuk bekerja secara efektif dan memaksimalkan waktu yang ada setiap hari nya. Tidak itu saja, di awal semester, saya biasanya menuliskan target yang ingin saya capai pada semester tersebut. Target inilah yang menjadi ‘track’ saya. Di akhir semester, saya juga melakukan evaluasi atas proses belajar yang saya lalui. Ini yang mendorong untuk tetap berada pada fokus: lulus tepat waktu dengan hasil yang baik.

Selama kuliah ini, cita-cita saya untuk menjadi Duta Besar mulai berubah arah. Sebagai anak sulung dengan dua adik yang juga duduk di bangku kuliah, saya paham betapa berat nya beban finansial yang harus diemban orang tua. Saya kemudian menjadi sangat realistis untuk segera lulus cepat dan bekerja di Perusahaan Multinasional yang akan menggaji saya besar. Dari titik inilah, saya kemudian membuat rencana untuk memperpendek masa studi. Kebetulan, saya juga sudah menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Gempa saat masih semester 4. Inilah yang membuat saya lebih bertekad untuk segera menyelesaikan studi. Konsekuensi dari pilihan ini adalah saya tidak akan mengambil tawaran beasiswa luar negeri yang nantinya dapat memperlama masa studi. Saya hanya fokus menyelesaikan kewajiban belajar yang tersisa. Pada akhir semester 5 saya sudah mulai menyusun proposal skripsi yang diseminarkan di awal semester 6. Di semester ini pula, saya mendapatkan kesempatan mengikuti ‘Summer School Asian Emporiums’ di University of Malaya, Malaysia selama 40 hari. Di program ini, saya belajar mengenai Asia Tenggara dari konteks politik, sosial dan budaya. Tuhan benar-benar memberikan yang terbaik. Keinginan saya untuk bisa belajar di luar negeri kesampaian tanpa harus keluar dari rencana saya untuk lulus cepat. Sepulang dari Malaysia, saya kembali menyelesaikan skripsi dan melakukan pendadaran sesuai dengan rencana. Dengan izin Tuhan saya dinyatakan lulus dengan masa studi 3 tahun 9 hari. Di hari wisuda, saya dinyatakan sebagai lulusan tercepat universitas dan lulusan terbaik Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM. Sungguh sebuah hal yang tidak pernah bisa saya bayangkan mengingat betapa dulu keinginan menjadi mahasiswa UGM saja sudah sebuah mimpi besar.

Secara akademis maupun kegiatan non kampus, saya merasa sangat puas dengan pencapaian ini. Secara pribadi, saya merasa sangat berkembang. Saya belajar bagaimana melakukan manajemen waktu dan bekerja secara efektif dengan hasil maksimal. Saya juga sangat bersyukur, UGM telah memberikan lingkungan belajar yang sangat kondusif. Belajar dengan orang-orang pintar dari seluruh Indonesia dan dididik oleh dosen-dosen yang berkualitas. Belum lagi, jaringan internasional yang UGM miliki telah mampu memberi kesempatan bagi mahasiswa nya untuk lebih aktif di level internasional. Kerja keras selama ini benar-benar terbayar ketika saya lulus, UGM benar-benar memberikan kontribusi bagi pertumbuhan pola pikir dan karakter saya.

KEHIDUPAN SETELAH LULUS
Setelah lulus, saya pergi ke Jakarta untuk melamar pekerjaan di perusahaan multinasional. Saya sempat mengikuti test bekerja di beberapa perusahaan. Namun selama mengikuti proses ini saya merasa ini bukan panggilan saya. ‘I’ll die as a person if I work in this sector’. Gumaman inilah yang terngiang di kepala setiap saya memasuki gedung-gedung besar di Jakarta. Inilah yang membuat saya kembali ke Jogja setelah hanya satu bulan mencoba peruntungan saya di ibukota. Keinginan saya pulang ini juga karena saya mendapatkan informasi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional akan membuka lowongan asisten dosen. Sambil menunggu bukaan resmi dari Jurusan, Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi M.Eng Ph.D meminta saya untuk membantu Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM. Perkenalan saya dengan Pak Rektor sendiri terjadi karena saya nekad bertemu beliau dengan hanya bermodalkan lulusan tercepat UGM. Pada kesempatan pertemuan tersebut, Pak Rektor menceritakan bahwa UGM sedang mempercepat kerjasama internasional dengan universitas di luar negeri. Satu bulan semenjak saya lulus, saya kemudian bekerja di KUI UGM sebagai ‘Program Coordinator for Europe and Middle East’.

Tidak lama berselang setelah saya mulai bekerja di KUI, saya mengikuti ujian sebagai asisten dosen di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM. Posisi ini menjadi jalan awal bagi saya untuk merintis karier sebagai akademisi. Keinginan sebagai akademisi memang sempat terlintas di kepala, namun hal ini tergerus dengan keinginan untuk bekerja di sektor swasta yang bergaji besar. Maka saat saya diterima sebagai bagian dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, saya bertekad untuk menjadi mandiri secara finansial. Sebagai asisten, saya bertugas untuk membantu semua aktifitas akademik di jurusan. Pekerjaan ini saya lakukan bersamaan dengan tugas saya di KUI. Pada titik ini pula, saya mulai berpikiran untuk melanjutkan studi S2 ke luar negeri. Bapak Muhadi Sugiono, MA yang merupakan pembimbing skripsi saya yang pada saat itu menjadi Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM menawarkan beasiswa sekolah S2 program Peace Education ke University for Peace (UPeace), Costa Rica. Kesempatan ini ada dalam skema kerjasama antara UGM dengan UPeace. Saya masih pikir-pikir mengingat sudah ada beberapa dosen yang mendalami kajian perdamaian. Saya pribadi berharap dapat belajar area baru di Hubungan Internasional. Bersamaan dengan ini, ada kesempatan untuk mendaftar program Network on Humanitarian Action (NOHA) di Rijksuniversiteit of Groningen (RuG), Belanda.

Karena ketertarikan saya dengan isu humanitarian action ditambah belum ada staff pengajar di jurusan yang mendalami hal ini, maka saya meniatkan diri untuk mengirim aplikasi beasiswa ini. Pak Rektor, Ibu Daniar Natakusumah, LL.M (Mantan Kepala KUI UGM), Bapak Dr Rachmat Swiwijaya (Kepala KUI UGM) dan Bapak Muhadi Sugiono, MA merupakan beberapa pihak yang sangat mendorong aplikasi beasiswa saya di Program NOHA Erasmus Mundus. Bahkan, Pak Rektor dan Ibu Daniar dalam kunjungan kerja nya di RuG melakukan endorsement atas aplikasi saya. Upaya banyak pihak ini berhasil meloloskan saya untuk sekolah S2 NOHA di RuG (semester 1) dan Uppsala Universiteit, Swedia (semester 2) dengan beasiswa dari Uni Eropa. Program NOHA merupakan kajian S2 multidisipliner dimana mahasiswa dapat mengikuti kegiatan perkuliahan di dua universitas yang berbeda selama masa studi 16 bulan.

STUDI DI EROPA
Saya berangkat ke Belanda pada Bulan Juli 2009. Program pertama yang harus saya ikuti adalah NOHA Intensive Programme di Université d’Aix-Marseille III, Prancis. Selama 10 hari, mahasiswa dari 7 universitas network di NOHA dikumpulkan untuk mendapatkan pengantar kuliah sebelum kembali belajar ke universitas masing-masing. Tujuh universitas NOHA adalah Rijksuniversiteit of Groningen (Belanda), Universidad de Deusto (Spanyol), Uppsala Universitet (Sweden), Ruhr-Universität Bochum (Jerman),University College Dublin (Irlandia), Université Catholique de Louvainin (Belgia) dan Université d’Aix-Marseille III (Prancis). Mahasiswa NOHA memiliki hak untuk mengambil kuliah di universitas yang berbeda dengan semester pertama. Di semester satu, semua mahasiswa di tujuh universitas ini mempelajari modul yang sama: International Law, Geopolitics, Public Health, Management, Anthropology, Psychology. Sedangkan, di semester dua, setiap universitas ini memiliki kajian yang berbeda Uppsala Universiteit tempat saya belajar di semester dua mengajarkan ‘Conflict, Peace Studies and Religion in Humanitarian Action’.

Tantangan terberat saya selama belajar di Eropa, saya alami saat semester satu. RuG sangat terkenal dengan tradisi keilmuwannya yang sangat tinggi dan berkualitas. Pada program NOHA sendiri, RuG sangat terkenal ketat dalam memberikan banyak tugas. Hampir tiap malam saya harus tidur larut karena mempersiapkan kelas keesokan paginya dan mengerjakan tugas kuliah. Keluhan ini tidak hanya dirasakan oleh saya namun juga oleh hampir semua teman-teman sekelas. Saya menyadari betul bahwa saya harus bekerja lebih keras mengingat teman-teman yang mayoritas datang dari negara Eropa Barat pasti sudah sangat familiar dengan sistem pengajaran. Ini harus saya lakukan jika saya tidak mau ketinggalan. Pernah suatu kali, ada tugas debat untuk kuliah geopolitics. Kami dibagi ke dalam berbagai macam topik dan kelompok (affirmative (mendukung topik debat) dan negative (oposisi terhadap topik debat)). Saya kemudian berpartner dengan teman Belanda yang diharuskan mendukung sebuah topik debat (affirmative). Saya menghubungi sahabat saya yang telah aktif sebagai debater untuk latihan sebelum kelas dimulai. Dengan menggunakan media skype saya melakukan simulasi dengan sahabat saya yang juga sedang mengambil S2 di Paris ini. Persiapan ini sangat membantu saya mendapatkan nilai 8,5 (dari total 10). Dari 25 teman sekelas, kurang dari sepuluh orang mendapatkan nilai diatas 8. Sekali lagi saya menyadari, bahwa ‘preparation makes perfect.’

Meskipun begitu, ada juga saat dimana saya down jika saya tidak memenuhi target belajar. Tapi, apapun itu, ‘everything goes for some good reasons’, pasti ada alasan yang baik dibalik semua hal yang terjadi. Dukungan dari teman-teman sekelas juga sangat membantu. Hal ini bisa ditemukan dalam tugas kelompok yang mengambil porsi besar di semester awal di RuG. Tidak jarang, kami saling back-up dan memberi masukan satu sama lain saat proses pengerjaan tugas.

Pada akhir Bulan Januari 2010, saya terbang ke Uppsala Universiteit, Swedia, untuk memulai semester dua saya di universitas tersebut. Dari jauh-jauh hari, teman-teman saya sudah mengingatkan tentang udara dingin di Swedia. Benar saja, cuaca adalah tantangan pertama saya di negara tersebut. Saya datang di tengah musim dingin bersuhu minus 20. Uppsala yang merupakan kota pelajar benar-benar tertutup oleh salju. Di bulan pertama, saya tidak sanggup berjalan kaki karena udara yang sangat dingin sekali. Kebiasaan saya bersepeda di Belanda pun harus saya kesampingkan. Namun dengan biaya transportasi yang cukup mahal, saya harus mulai membiasakan diri untuk berjalan kaki. Maka dimulailah petualangan berjalan di antara gundukan salju besar di kota yang hampir semua bangunan dan pepohonan nya tertutup salju. Pernah suatu pagi, dengan sudah menggunakan dua sarung tangan, saya berangkat ke kampus. Saat tiba di kampus, dua teman sekelas saya dari Amerika Serikat dan Skotlandia menyapa saya sambil tersenyum dan bertanya: ‘Selamat Pagi, Nisa, tahu tidak suhu diluar berapa?’ Saya yang baru sampai di kelas hanya bisa menggeleng kepala. Lalu mereka sambil tersenyum berkata: ‘Ini minus 30.’ Sambil melepas sarung tangan, saya tersenyum kecil dan bilang ke teman Amerika saya: ‘Hei Peter, saya harus memberi reward ke diri saya sendiri, I survive.’ Di hari yang sama, suhu di Jakarta 30 derajat. Sangat tidak terbayangkan saya ‘terdampar’ di sebuah negara Skandinavia yang suhunya sangat jauh berbeda dengan Indonesia. Keadaan ini membuat saya benar-benar tertantang. Saya kemudian ikut keempat teman saya pergi mengunjungi Festival Musim Dingin di Jokkmokk, Swedia Utara. Jokkmokk sendiri terletak persis di dalam garis antartika. Perjalanan kesana ditempuh 14 jam dengan kereta dari Uppsala. Tantangan kedua melawan cuaca adalah saat saya bersama teman-teman sekelas pergi ke Estonia dengan menggunakan kapal pesiar dari Stockholm. Sesampai di Estonia, salah satu negara di Eropa Timur, kami langsung ditantang badai salju. Benar-benar pengalaman tidak terlupakan.

Pengalaman belajar di Uppsala sedikit berbeda dengan di Belanda. Tugas-tugas yang diberikan di Uppsala tidak sebanyak saat semester satu. Meskipun begitu, secara individu kami diberikan tugas besar untuk melakukan riset mendalam mengenai sebuah konflik termasuk membuat skema resolusi konflik nya. Tugas paper konflik analisis ini nantinya dipresentasikan di depan kelas. Menurut professor saya di Uppsala, sistem kuliah di Swedia memberikan ruang bagi mahasiswa nya untuk melakukan refleksi atas apa yang mereka pelajari, sedikit berbeda dengan di Belanda dimana mahasiswa diberikan banyak tugas. Bahkan, pernah suatu ketika, professor saya merevisi deadline pengumpulan ujian tulis yang pada awalnya hari Sabtu menjadi hari Senin depan. Hal ini dikarenakan ada hukum di Swedia yang mengatur para pengajar untuk tidak membebankan tugas kepada mahasiswa saat weekend. Pikir saya, benar-benar luar biasa negara ini, hingga hal seperti itu sangat dihargai dan diatur.

Pada dasarnya, saya merasa lebih disiplin saat di Uppsala. Seperti kebiasaan saya semenjak kuliah di UGM, saya merencanakan awal semester dengan target yang ingin saya capai, yang nantinya saya rinci kecil-kecil kepada target mingguan dan harian. Selama di Swedia saya berkomitmen untuk mulai mengerjakan thesis dan fokus mencari kemungkinan magang di organisasi kemanusiaan. Program magang merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh mahasiswa NOHA di semester 3. Saya memulai dua hal ini disaat belum ada teman satu kelas saya memulai. Namun kembali lagi saya berpikir, dengan kemampuan mereka, saya yakin mereka bisa lebih cepat bekerja. Jadi, agar nantinya saya tidak ketinggalan saya harus mulai sedari awal. Pada Bulan Maret 2010, saya kembali ke Belanda selama satu minggu untuk melakukan bimbingan thesis Bab 1 dan 2. Professor saya sempat bertanya bagaimana saya bisa mengerjakan dua bab thesis disaat kuliah aktif berjalan di Uppsala. Dan sekali lagi, ini ada pada manajemen waktu yang terkendali.

Pada kisaran periode itu juga, saya harus memulai mencari magang di organisasi kemanusiaan di Eropa. Sebagai penerima beasiswa Erasmus Mundus, Komisi Uni Eropa meminta para awardee untuk melakukan magang di Eropa. Ini artinya, saya harus berkompetisi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia untuk mendapatkan kesempatan magang di Eropa. Saya sendiri berharap dapat melakukan magang di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ini bagian dari mimpi masa kecil. Maka mulailah saya mencari informasi tentang organisasi PBB yang membuka kesempatan magang. Aplikasi pertama, saya kirimkan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Paris, Prancis. Tidak ada jawaban. Saya kemudian berpikir, saya harus mempersiapakan lebih baik untuk aplikasi selanjutnya. Kemudian saya mengirimkan aplikasi kedua ke United Nations Office for Coordination of Humanitarian Affairs(UN OCHA), Jenewa, Swiss. Saya harus jujur, sejak awal saya pesimis bisa mendapatkan posisi ini karena UN OCHA merupakan salah satu aktor utama dan penting di sektor humanitarian action. Saya bahkan sudah meniatkan ini hanya latihan saja untuk seleksi magang selanjutnya. Satu minggu setelah aplikasi saya masuk, saya dihubungi untuk mengikuti seleksi tertulis via email. UN OCHA akan mengirimkan satu dokumen yang berisi laporan kemanusiaan mereka di Haiti dan saya diminta menganalisis dari berbagai aspek koordinasi yang mereka sebutkan dalam lembar pertanyaan. Saya diminta menjawab dengan mengacu pada dokumen yang mereka berikan. Pertanyaan ini harus saya kirimkan dalam waktu satu jam sejak mereka mengirimkan email pertanyaan beserta dokumennya. Saya tidak bisa berpikir hal lain kecuali mengerjakan apa yang saya bisa. Beberapa hari setelah saya mengirimkan test tertulis ini, saya dihubungi untuk wawancara. Saya kemudian diwawancara oleh empat orang via telepon dari Jenewa. Pertanyaan berkisar apa yang bisa saya berikan pada UN OCHA, apa pengalaman Anda di humanitarian action, apa rencana Anda setelah magang. Di akhir wawancara, mereka mengatakan, akan memberi tahu hasil wawancara 3 hari kemudian. Namun hanya berselang beberapa jam, mereka menghubungi bahwa saya diterima magang di UN OCHA, Jenewa, Swiss selama tiga bulan. Saya sungguh sangat bersyukur mengingat tiga teman saya dari Belanda, Irlandia dan Nepal juga mendaftar posisi yang sama. Saya mengakhiri studi saya di Swedia dengan indah seperti pemandangan musim semi yang indah di akhir proses belajar saya di negara Skandinavia itu. Saya mendapatkan magang di sebuah sebuah organisasi penting dan lulus di Uppsala dengan predikat ‘Very Good’, nilai tertinggi di sistem pendidikan Swedia. Benar-benar tidak terbayangkan.

Setelah dari Swedia saya sempat menikmati liburan musim panas di Prancis sebelum kembali ke rutinitas yang baru: MAGANG. Saya terbang ke Jenewa awal Agustus. Sesuai rencana, saya akan magang selama tiga bulan hingga Oktober. Sehari setelah saya tiba di Jenewa, saya langsung bekerja. Saya datang disaat yang tepat, saat UN OCHA mulai mengirimkan personel nya ke Pakistan. Saya magang di Surge Capacity Section yang bertanggung jawab terhadap pengiriman personel ke daerah konflik atau pun bencana alam. Tugas pertama saya adalah mencari Resolusi PBB yang mengatur tentang pengiriman personel. Hari berikutnya saya diminta untuk membuat chart yang berisi informasi keberangkatan setiap personel yang dikirim ke Pakistan. Chart ini akan menjadi acuan bagi UN OCHA untuk melihat kapasitas sumber daya manusia yang mereka miliki. Tugas ini membuat saya menjadi orang yang memiliki informasi komprehensif tentang pengiriman personel. Sebagai follow up atas tugas ini, saya juga diminta untuk mempersiapkan briefing book bagi UN Under-Secretary General (UN USG) yang saat itu akan berkunjung ke Pakistan. Tidak hanya itu, saya juga diminta untuk melakukan korespondensi langsung terkait Memorandum of Understanding (MoU) dengan partner OCHA. Tugas ini sangat menantang mengingat saya harus mengetahui betul apa yang menjadi hak dan kewajiban OCHA dan partner di setiap klausul MoU. Saya juga ikut membantu OCHA dalam menyeleksi independent consultant yang tertarik untuk dikirimkan sebagai personnel OCHA. Saya langsung mengasisteni proses seleksi dan bisa mendapatkan akses untuk ikut serta dalam proses pemilihan bersama panel seleksi yang terdiri dari OCHA New York, OCHA Geneva dan OCHA di kantor regional (Panama/Dubai/Bangkok). Mendapatkan kesempatan magang di PBB juga berarti mendapatkan akses untuk mengikuti rapat-rapat penting yang mereka lakukan. Di awal terjadinya banjir di Pakistan, saya sempat mengikuti rapat koordinasi kemanusiaan antara OCHA New York, OCHA Geneva dan OCHA Pakistan. Rapat koordinasi yang sebelumnya hanya bisa saya bayangkan selama mengkuti kelas di RuG, sekarang bisa saya ikuti langsung. Pengalaman ini membuka pemikiran saya untuk bisa bekerja lebih keras lagi, tidak hanya untuk karier saya sendiri tapi juga untuk kemanusiaan. Paling tidak, dengan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, kajian terhadap humanitarian action benar-benar sangat dibutuhkan. Salah satu hal yang saya syukuri dari proses belajar di Eropa adalah mempelajari bagaimana etos kerja orang Eropa. Kuliah di Belanda mengajarkan saya bagaimana menjadi pribadi yang lebih organized. Orang Belanda sangat mengatur aktifitasnya per hari. Hampir semua orang Belanda memiliki buku agenda kegiatan yang mencatat semua hal yang mereka laksanakan. Komitmen pribadi ini juga ditunjukkan saat mereka berinteraksi. Berbeda sedikit dengan orang Belanda, bekerja dengan orang Jerman menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Saya sangat menikmati bekerja kelompok dengan orang Jerman yang sangat serius, detail, punctual dan pekerja keras. Sejujurnya, saya belajar banyak dari teman saya orang Jerman yang mengatur segala aktivitas kehidupannya dengan rigid. Jika dia memutuskan belajar, maka dia akan menghentikan segala aktifitas yang tidak ada kaitannya dengan tugas kuliah. Orang Jerman sangat deterministik, salah satu hal yang menurut saya, membuat mereka menjadi bangsa yang maju. Belajar di Uppsala memberi kesempatan kepada saya untuk belajar bagaimana cara bekerja orang Swedia. Dibandingkan orang Belanda dan Jerman, orang Swedia lebih fleksibel. Hal ini bisa ditunjukkan dari bagaimana mereka memiliki academic hour (15 menit) untuk mengakomodasi keterlambatan. Meskipun begitu, orang Swedia terkenal dengan integritas nya yang tinggi. Tingkat kepercayaan satu sama lain juga sangat tinggi.

Setelah selesai magang, saya kembali ke Belanda untuk melakukan wawancara terkait proses magang dengan dosen saya di RuG. Saya juga mengagendakan bertemu dengan dosen pembimbing thesis. Situasi pada awal November benar-benar tidak kondusif karena saya sangat tidak tenang dengan kondisi Gunung Merapi saat itu. Hampir tiap hari saya menelpon keluarga saya yang tinggal 30 km dari Puncak Merapi. Kegelisahan saya ini sebenernya sudah bisa dicium kolega saya di PBB yang sangat supportif dan rajin menanyakan kabar keluarga saya. Bahkan mereka meminta saya untuk menggunakan telepon PBB sewaktu-waktu jika ada kondisi baru yang terjadi. Hidup jauh dari keluarga disaat kondisi tidak menentu memang benar-benar menyiksa. Dari sisi positif, ini menjadi motivasi saya untuk segera menyelesaikan urusan saya di Belanda. Pada saat wawancara magang, dosen saya menginformasikan bahwa PBB menilai kemampuan kerja saya sangat baik. Mereka dalam surat nya, bahkan sangat merekomendasikan saya untuk dapat diterima di organisasi yang sesuai dengan profile saya. Fakta ini membuat saya sangat lega. Terkait thesis, dosen saya mengaku sangat senang dengan hasil pekerjaan saya meski ada beberapa revisi kecil yang harus saya perbaiki. Satu minggu setelah semua urusan saya selesai, saya kemudian kembali ke tanah air.

Hingga detik ini saya tidak henti-hentinya bersyukur atas nikmat dan kemudahan yang Tuhan berikan kepada saya. Sejak berjuang masuk UGM saya memang mengandalkan kerja keras dengan persiapan yang memadai jika akan melakukan sesuatu. Hal ini saya lakukan karena saya paham kapasitas dan kemampuan saya yang masih kalah jauh dari banyak orang. Ini mengapa saya harus bisa mempersiapkan diri untuk bisa melangkah satu step lebih awal dari yang lain. Saya harus berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang sejak kecil mengajarkan kedisiplinan dan pentingnya sebuah visi dalam menjalani hidup. Visi inilah yang kemudian saya ‘baca’ sebagai langkah awal untuk melihat pencapaian apa yang ingin saya raih. Setiap hari visi ini dikerjakan melalui baby step yang harus saya jalani dengan komitmen kedisiplinan. Saya ingin mewujudkan banyak mimpi di hidup saya. Ini mengapa saya harus siap untuk memperjuangkannya. Seperti kata Paolo Coelho, yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan mewujudkan impian menjadi kenyataan (The Alchemist).

TENTANG PENULIS

ANNISA GITA SRIKANDINI merupakan mahasiswi angkatan 2004 pada
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIPOL) UGM. Annisa merupakan lulusan tercepat pada periode
kelulusan bulan November 2007, yaitu 3 tahun 9 hari dan predikat Cum
Laude dengan IPK tertinggi di antara mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan
Internasional yang lulus pada periode tersebut. Annisa juga beberapa kali
mengikuti konferensi dan pelatihan tingkat internasional yang antara lain: Workshop for Peace Educators in Southeast Asia, Miriam College, Filipina pada tahun 2009; Delegasi Indonesia padaASEAN Youth Summit 2008 di Bangkok, Thailand yang diselenggarakan oleh Kementrian Luar Negeri Thailand; ASEAN Emporiums Class di University of Malaya, Malaysia pada tahun 2007.

Pada tahun 2010, Annisa telah berhasil memperoleh gelas masternya pada studi Humanitarian Action yang merupakan salah satu Program dari Erasmus Mundus dari Rijkuniversiteit of Groningen, Belanda dan Uppsala Universiteit, Swedia. Selain itu, Annisa juga berhasil memperoleh kesempatan magang di United Nations Officer for Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA) Surge Capacity Section di Geneva, Swiss pada bulan Agustus sampai Oktober 2010. Saat ini Annisa aktif sebagai staff pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM.

Untuk baca versi pdf, klik di sini. Source: inspirasi.ugm.ac.id

Secara garis besar, cita-cita awal aku dan Teteh Kece satu ini hampir sama: kuliah dan bekerja di luar negeri tanpa mengeluarkan biaya. Tapi, apa aku bakalan jadi kayak dia juga? Amin!

Right. Setelah baca cerita ini, perasaan aku campur aduk. Sekarang aku harus ngeliat jauh ke depan. Ingin seperti apa aku dua tahun ke depan? Siapa aku lima tahun ke depan? Di mana aku sepuluh tahun ke depan?

Saat ini mungkin aku masih labil dan kurang mengerti yang namanya persaingan di dunia luar. Maka dari itu aku dari sekarang harus siapin diri, mental, fisik, dan otak. Aku harus tau gimana sih kuliah di universitas ini, gimana biaya hidupnya, gimana proses belajarnya, apa aja yang harus aku siapin, dan secara keseluruhan gambaran kuliah dan prospek kerjanya.

Get ready, world. Here I come!

Advertisements