We are what we play. So, be careful on choosing your role.

Kurt Vonnegut

Kadang kita ngerasa kalau hidup ini cuma permainan ular tangga. Mengocok dadu: kalau beruntung maka kita dapet angka 6, kalau gak beruntung kita cuma dapet angka 1. Kadang ada jalan pintas yang kelewat gitu aja, dan kadang kita malah mundur beberapa kotak dan mengulangi lagi dari awal.

Sebenernya, itu semua tergantung sama diri kita sendiri. Apa kita berdoa dulu sebelum mengocok dadu atau enggak? Apa kita punya strategi atau enggak?

Dalam pikiran pendek khas anak SMA jaman sekarang: “Hidup ini cuma panggung sandiwara, bung. Semua yang lo lakuin itu akting!”

Maybe he’s/she’s right. Semua yang kita lakuin di dunia ini cuma akting. Kalau kita ngambil peran antagonis, ya otomatis otak kita bakalan memproses kelakuan-kelakuan khas peran antagonis. Sebaliknya, kalau kita milih peran protagonis, otak kita bakal mencerna kelakuan yang positif dan selaras sama jalan hidup.

So, kalian ngambil peran apa dalam hidup kalian? Protagonis kah? Atau antagonis?

Sekarang saya sudah berumur 17 tahun tetapi belum mempunyai KTP: E-KTP.

Saya bangga menjadi murid SMA Negeri 5 Bandung yang besar karena kebersamaan. Meskipun cukup berat, saya ingin dan harus menjadi yang terbaik.

Sampe sekarang aku belum bisa prediksi apa sih yang pemerintah rencanain dengan program E-KTP yang katanya ngeluarin banyak modal. Hello~ kalau menurut aku sih lebih baik uangnya dipake buat anak-anak jalanan yang terlantar. Atau dipake buat beli semprotan anti koruptor…

Di sela-sela perang politik sana-sini, aku tinggal adem ayem di kota yang sejuk dan ngerasain yang namanya ‘SMA’: masa orientasi yang ‘wah’, jalan-jalan ke mall, karaoke, shopping, pulang malem, kerja kelompok, tawuran, nginep di sekolah, dan sejuta pengalaman lainnya.

Sekolah di sini emang berat. Selain karena finansialnya yang harus bener-bener jauh di atas rata-rata, persaingannya pun cukup nguras otak, waktu, dan tenaga. Apalagi kalau sekelas sama murid-murid berprestasi yang kalau ikut lomba udah bisa dipastiin dia bakalan menang.

Tapi tentu dong hal itu gak boleh dijadiin penghalang buat masa depan kita. Live your own life, dude!

Saya sedang mencari beasiswa, baik di dalam maupun di luar negeri.

Saya ingin berkeliling dunia sambil bekerja. Menjadi Duta Besar atau konsultan dan membuat orang tua saya bangga. Saya tidak ingin menyusahkan orang lain, terutama keluarga saya.

Saya ingin membahagiakan semua orang dan menenangkan hati mereka. Seperti doa orang tua saya dalam sebuah nama; Shafira Bayugiri. Sebuah batu mulia dalam desiran angin gunung.

Siapa sih yang gak pengen, pergi ke luar negeri dibiayain negara dan digaji? Semua orang seenggaknya pernah bermimpi pergi ke luar negeri.

Semenjak pelajaran bahasa jadi favorit aku, ke luar negeri adalah hal yang paling aku impikan. Aku mulai rajin cari-cari kemungkinan beasiswa dan nyusun rencana buat dokumen-dokumen yang sekiranya bakal diperlukan. Finansial gak boleh jadi masalah, yang penting aku bisa ngebuktiin kalau orang biasa juga bisa ke luar negeri tanpa nyusahin orang  tua.

Mulai dari nyusun rencana-rencana kedepan, nyuri brosur-brosur universitas dari ruang BK, curi-curi data di internet tentang beasiswa di dalam maupun luar negeri, sampe otodidak belajar bahasa asing dengan modal kecintaan dan internet.

Peran yang aku jalanin sekarang merupakan peran yang masih labil dalam menentukan arah: protagonis atau antagonis. Tapi yang jelas, harapan orang tua adalah segalanya dan do’a orang tua adalah mimpi yang harus aku wujudkan. Semoga ini semua bisa jadi angin yang menyejukkan hati setiap pembaca 🙂

Setelah beribu-ribu kata dirangkum menjadi enam bagian, tangan keram gak bisa digerakkan, dan imajinasi dikerahkan -akhir kata: THIS IS ME.

Introduction | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

We shouldn’t give up on life. We should live on it. With love and laugh 🙂

Advertisements