By Shafira Bayugiri R.

Aku termangu di depan jendela sambil melihat keluar. Seekor burung kecil sedang berkicau riang dan suasana di halaman bawah terlihat sepi. Musim semi, begitu indahnya meskipun aku tidak bisa menikmati sepenuhnya. Aku berjalan sepanjang koridor, kuseret roda infusku dengan tangan kiri sementara tangan kananku berpegangan pada sisi jendela. Sudah hampir dua bulan aku dirawat di Rumah Sakit karena penyakitku yang kambuh.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. “Hey, gelangmu jatuh.” katanya pelan.

Aku menoleh perlahan. Seorang laki-laki, sepertinya sebaya denganku, menyodorkan gelang pasien sambil tersenyum lebar. Aku balas tersenyum sambil menerima gelang tersebut. “Terima kasih.”

“Sama-sama,” katanya lagi. “Aku Miki.” Ia mengulurkan tangan kanannya. Tangan kirinya diperban dan di-gips.

“Aku Kian.”  Jawabku pendek sambil menyambut tangannya. Aku masih terlalu lelah untuk berbicara, jalan seperti ini saja sudah menguras sebagian besar tenagaku.

“Kiandra!” seru seorang suster dari belakang. Ia berlari-lari kecil sepanjang koridor sampai aku berhenti berjalan. “Kian! Mukamu pucat sekali. Jangan sampai capek, kamu harus menjaga kondisi tubuhmu sebelum operasi. Ayo, suster antar ke kamarmu lagi.”

“Operasi? Apa yang sakit?” Miki bertanya lirih.

“Ini,” aku memegang dada kiriku, tempat jantungku berdegup lambat. “Dadaku.” Jawabku pendek, berusaha tersenyum meskipun bayang Miki mulai kabur di mataku.

Miki terdiam. Ia memalingkan wajahnya keluar jendela, sorot matanya merasa bersalah.

“Kian memang sudah lama disini, tapi kali ini operasinya dijamin 100% berhasil.”  Suster menambahkan, melihat gerak-gerik Miki yang terlihat gugup.

Dan semuanya menjadi gelap.

***

“… Buatlah dia untuk selalu tenang.” Sayup-sayup terdengar suara Dokter Suganda, dokter yang selama ini mengurus penyakitku. Aku menarik nafas pendek, mataku sangat berat untuk dibuka.

“Dokter…” suara Bunda dari balik tirai terdengar hampa. “Apa operasi nanti akan berjalan lancar? Atau mungkin harus kami batalkan saja?”

Kini suara Dokter Suganda-lah yang terdengar lirih, tidak seperti biasanya. “Aku tidak ingin memberitahukan kepada Kian…” aku membuka mata perlahan sambil terus mendengarkan. “Sebetulnya kemungkinan operasinya berhasil hanya 20%…”

Aku tersentak. Penglihatanku kembali buram dan kepalaku terasa berputar-putar. Aku duduk di kasur dan menurunkan kakiku yang terasa lemas.

“Maafkan kami, tetapi operasi ini tergantung pada stamina tubuh Kian. Semakin sering ditunda, semakin tubuhnya melemah, maka semakin kecil persentase keberhasilan operasinya.” Aku mengintip dari celah tirai. “Walaupun operasi pun tidak menjamin Kian akan hidup lebih lama…”

Aku menarik tirai, mengejutkan Dokter Suganda dan Bunda yang sedang menangis tanpa suara. Air mata mengalir deras di pipinya. Aku benci hal itu. Aku benci terlihat lemah dan aku benci melihat Bunda menangis. Bunda adalah wanita paling tegar yang pernah aku tahu.

Akan tetapi, aku terlalu bingung untuk mencegah hal itu terjadi. Semua orang mengatakan bahwa operasi kali ini dijamin 100% berhasil. Mereka semua berbohong, kan?

“Kian!” jerit Bunda, buru-buru menghapus air matanya dan menarikku kembali bersandar di kasur. “Kamu baru bangun? Tadi kamu pingsan dan suster mengantarmu kesini…” Bunda membereskan selimutku dan menariknya sampai ke dadaku.

Aku menggenggam tangan Bunda dengan kedua tanganku. Tangan kami berdua sama-sama basah. “Aku tidak mau dioperasi.” Kataku lemah. Sejak kecil, aku sudah sering sekali masuk rumah sakit. Aku telah kehilangan banyak hal, dan kukira operasi kali ini dapat membayar segalanya. Kalau operasi ini gagal, bukankah aku harus kehilangan masa depan yang kuimpikan selama ini?

***

Jarum jam berdetak perlahan, mengiringi tidurku yang sama sekali tidak nyenyak. Aku mengusap mataku dan perlahan duduk di atas kasur. “Tidak bisa tidur lagi…” aku berkata pelan kepada diriku sendiri. Biasanya… remaja seperti aku saat ini sedang menelepon temannya atau berkumpul bersama keluarga…

“Di sini sepi sekali, ya…” aku berkata lirih, entah kepada siapa. Ya… Rasanya seperti tidak ada orang lain di dunia ini, hanya aku seorang diri. “Aku ingin ada seseorang yang berada di sampingku…” air mataku berlinang di sudut mata, bersiap-siap untuk tumpah.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku. Aku menoleh melihat siapa yang datang. Miki?

“Hai!” katanya ceria, tersenyum lebar sambil menutup pintu di belakangnya pelan-pelan. “Kamu masih bangun? Aku khawatir sekali. Kamu tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri, makanya aku jadi cemas.” Ia duduk di sofa di sebelah tempat tidurku.

Aku tersenyum kecil sambil mengusap air mataku. “Maaf aku membuatmu khawatir.”

Miki menatap mataku dalam-dalam, seakan tahu apa yang sedang mengganggu pikiranku. “Ini, dariku…” Miki menyodorkan pot kecil berhiaskan bunga dandelion.

Aku menerimanya dengan hati begitu ringan. “Terima kasih.” Aku tersenyum riang.

“Hehehe. Kalau begitu, aku pamit…”

“Jangan!” seruku spontan, hampir saja aku berteriak. “Tu-tunggu dulu…”

Miki termenung. Sesaat ia keheranan sebelum ia mengerti. “Oh!” katanya ceria. “Aku tahu! Kamu pasti tidak ingin sendirian, kan?” tanyanya, tersenyum lebar sambil kembali duduk di sofa. “Baiklah, aku akan bercerita sampai kamu tertidur.”

Aku jadi salah tingkah gara-gara teriakanku sebelumnya. “Eh… tidak usah. Aku kan bukan anak kecil lagi…”

“Sudahlah, tak apa!” potongnya, mengedipkan sebelah matanya.

Begitulah…  Miki banyak bercerita kepadaku. Tentang bagaimana ia menjadi sukarelawan dalam sebuah organisasi pencegah penyakit HIV/AIDS, bagaimana ia harus bertahan hidup dengan ibunya dan kedua adik perempuannya, dan bagaimana perasaannya ketika ia tahu ayahnya telah meninggalkannya sejak ia berumur tujuh tahun. Seandainya saja… aku bisa sekuat Miki.

***

Aku menghentak-hentakkan kaki seiring dengan dentuman musik di telingaku. Pagi ini, aku memutuskan untuk kembali berjalan-jalan di sepanjang koridor. Kali ini aku memakai iPod untuk mendengarkan lagu. Miki pernah bercerita bahwa lagu kesukaannya dapat membuatnya merasa lebih bahagia.

Dari kejauhan aku melihat Miki, buru-buru aku melepaskan earphone-ku dan melambaikan tangan. Akan tetapi, Miki tidak menyadarinya. Ia sedang berusaha meluruskan tangan kirinya. Tulang tangan kirinya patah akibat jatuh dari sepeda. Aku perlahan menghampirinya.

“Miki…” aku menyapanya sambil duduk di sebelahnya.

Miki menoleh dan tersenyum ketika melihatku datang. Seakan tahu apa yang aku pikirkan, ia buru-buru menjelaskan. “Dokter bilang aku baru bisa sembuh total dua minggu lagi. Tapi itu terlalu lama, biaya rumah sakit akan sangat mahal. Aku ingin cepat sembuh…” katanya sambil meringis kesakitan ketika ia mencoba meluruskan tangan kirinya.

“Jangan memaksakan, Miki…” aku menarik lengan baju Miki.

Miki tersenyum lembut. Manis sekali, sehingga aku terpana melihat senyumnya, senyum dan lesung pipinya. “Kalau kita tidak berusaha, tidak akan ada keajaiban, Kian.”

Aku terpana. Termenung akan kata-kata Miki yang sederhana, namun merasuk sampai ke hati. Kalau tidak berusaha, tidak akan ada keajaiban… Tiba-tiba secercah harapan muncul di benakku, membuat hatiku tergerak.

“Sini, aku bantu.”  Kataku sambil memijat-mijat tangan kiri Miki agar ototnya tidak kaku. Kami berdua tersenyum penuh arti.

***

“Bunda…” aku memanggil Bunda yang sedang membereskan baju-bajuku. “Aku akan menjalani operasi itu.” Kataku mantap.

Dan hari yang telah ditentukan pun tiba. Operasi transplantasi jantung yang telah direncanakan jauh hari, akhirnya datang.

***

Gelap. Dingin. Aku terus berjalan tanpa tahu arah tujuan. Aku bertelanjang kaki dan udara di sini sangat mencekam. Hatiku terasa hampa dan kosong. Aku tidak dapat melihat apa-apa, tidak satupun. Akan tetapi aku tidak berhenti melangkah. Aku terus berjalan meskipun tanpa tujuan.

Langkahku terhenti. Ada sebuah cahaya, cahaya kecil di ujung sana. Aku berlari. Meskipun dadaku sudah sangat sakit seakan-akan ratusan jarum menusuk jantungku. Dadaku terasa sesak. Cahaya itu perlahan-lahan membesar. Aku… harus berjuang. Aku sudah bertekad untuk tidak menyerah. Cahaya itu semakin dekat dan semakin menyilaukan mata.

“Kiandra!” tiba-tiba seseorang menyambutku dari dalam cahaya itu. Seorang laki-laki, sebaya dengan diriku, memakai jas dan keluar dari sebuah mobil.

“Miki? Tanganmu sudah sembuh?” tanyaku kepada Miki, laki-laki yang ada di hadapanku.

“Sudah dong! Apa aku bilang, jika kita berusaha, pasti akan ada keajaiban!” serunya riang, dengan senyum khas Miki dan lesung pipinya. “Ayo, Kian, aku antarkan kamu kembali!” Miki menarik tanganku dan mengajakku ke dalam mobil.

Dan segalanya menjadi gelap lagi.

***

Dadaku…  terasa hangat. Aku perlahan membuka mataku, meskipun masih terasa berat.

“Kian!” Bunda berbisik pelan, namun terlihat jelas dalam binar matanya, bahwa ia sangat bahagia. “Operasimu berhasil, sayang!”

Aku memejamkan mata, berusaha meyakinkan diri bahwa ini semua nyata. Aku masih tidak percaya. Aku menoleh mencari-cari sesuatu. Seakan-akan Bunda bisa membaca pikiranku, Bunda membuka laci dan mengeluarkan pot kecil berisi bunga dandelion.

“Ini, Miki meninggalkan pot ini di kamarmu saat kamu sedang operasi. Dia tidak mengucapkan apapun kepada Bunda, bahkan pamit pun tidak. Bunda sudah bertanya kepada suster-suster tapi tidak ada yang tahu dimana Miki tinggal…” kata Bunda, ia menaruh pot tersebut di meja sebelah tempat tidurku dan mengusap kepalaku lembut.

“Oh iya,” suster di belakang Bunda merogoh sesuatu dari sakunya. Ia lalu mengeluarkan sepucuk surat kecil yang digulung dan diberi pita biru. “Miki bilang, harus suster sendiri yang menyampaikan surat ini padamu. Suster tidak tahu kenapa.” Suster memberikan surat kecil itu.

Aku perlahan membuka  ikatannya dan membaca surat kecil itu. Isinya singkat, hanya dua kalimat beserta tanda tangan Miki. ‘Kiandra, ini aku, Miki! Selamat datang kembali!’. Aku tersenyum membaca surat pendek itu.

Miki… pertemuan kami begitu singkat, tapi ia telah mengajarkanku banyak hal. Bahwa dunia ini, penuh keajaiban. Bahwa jika kita berusaha, kita akan mendapatkannya.

Advertisements