By Shafira Bayugiri R.

Spanduk besar bertuliskan “Pesta Kelulusan”  terpasang di depan sebuah villa. Sore itu berangin sehingga aku harus memakai mantel dan syal. Sambil memegang dua map abu di tangan, aku melangkahkan kaki perlahan.

“Wah, bagus ya daun-daun kiaranya gugur. Padahal sebentar lagi kan musim hujan!” perempuan di sebelahku menarik tanganku dan menunjuk ke atas. Aku menengadah.

“Hm, iya bagus…” jawabku pendek. Aku kembali menunduk dan memandang dua map di tanganku. Ijazah kelulusan Ramdhan Agi. Aku menghela nafas panjang.

“Mia, ayo ikut ke dalam, kita nonton video kelas.” Ajak Alin, menarik tanganku.

Aku hanya tersenyum. “Tak usah, maaf ya Alin. Aku mau disini saja.” Aku menunduk memperlihatkan ijazah Agi.

“Ah… punya Agi, ya.” Sahut Alin.

“Iya,” jawabku. “Rasanya… aku masih belum percaya.”

Alin menatap mataku dalam-dalam. “Kalau begitu, aku tinggalkan kamu sendiri. Tak apa ya, Mia?” Alin menepuk pundakku dan tersenyum. Ia lalu pergi menyusul teman-teman yang lain. Aku tersenyum, hatiku terasa berat.

“Kamu tak datang…” aku berbisik pelan dan lirih. Semuanya berawal dari dua bulan yang lalu…

***

Teriakan dan celotehan bergemuruh memenuhi seisi kelas. Sebuah video festival olahraga yang diputar melalui proyektor membuat seisi kelas ramai. Sebentar lagi kelulusan dan akan diadakan pesta kelulusan kelas. Kami setuju untuk membuat video kelas untuk diputar pada puncak acara nanti.

Aku berjalan riang ke depan kelas. “Jadi semua setuju ya! Baiklah kalau begitu hari ini kita adakan rapat, bagaimana?” Seisi kelas langsung bersorak mengiyakan.

“Berarti kita harus cari editor film yang bagus, nih!” celetuk Alin.

Seisi kelas pun sibuk menentukan siapa saja yang akan bergabung. Aku menghela napas sambil mengamati video yang diputar di depan kelas. Video itu terlihat indah sekali. Aku hanya bisa tertegun melihatnya.

“Hei, Mia, ada apa?” Senggol Fadhlan.

Aku menoleh. “Itu, lihat deh. Videonya bagus sekali. Semua orang masuk dan terekam dengan lembut.” Aku menunjuk ke layar proyektor.

“Hm memang siapa yang merekamnya?” Kami bertatapan.

“Itu… aku dapat video itu dari flashdisk milik Ramdhan Agi.” Kataku sambil menunjuk ke arah flashdisk putih yang ditancapkan ke laptop ku. Mataku langsung berlari mencari sosok pendiam itu. Mataku berhenti di pojok kelas. Agi terlihat sedang melamun sambil memandang ke luar kelas.

Ramdhan Agi, ia pendiam dan selalu menyendiri. Sering terlambat masuk sekolah, dan juga sering absen. Dia hanya datang sewaktu sekolah mengadakan festival olahraga. Tapi… aku yakin sebenarnya dia sangat menyukai kelas ini. Itu sebabnya mengapa adegan yang ia rekam terasa indah dan lembut. Kalau tidak tertarik, mana mungkin hasilnya bisa sebagus itu.

Aku lalu memberanikan diri untuk menghampirinya. “Hai, Agi!” sapaku dengan senyum terlebar. “Kamu yang merekam video festifal olahraga itu kan?” tanyaku.

Agi memandangku dan mengangguk. “Iya, ada apa?”

“Kita akan membuat video kelas. Ikut ya, Agi!”

Agi hanya menunduk. “Maaf… aku ngga tertarik.” Katanya.

Aku langsung memperlihatkan wajah kecewa. Tiba-tiba Agi berdiri.

“Maaf, sudah bel. Aku pergi ya, Mia.” Ia memungut tasnya dan berlalu meninggalkan kelas.

“Tunggu!” aku seketika berdiri. “Kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa ikut rapat hari ini!” teriakku. Tapi Agi tak peduli, ia bahkan mencabut flashdisknya tanpa menolehkan kepalanya lagi.

“Kamu ini,” Fadhlan menepuk pundakku. “Nekat sekali. Dia kan bukan tipe orang yang mau ikut kegiatan seperti itu.”

“Habis, aku ingin videonya jadi bagus…” kataku sambil bersungut kesal. “Tapi entah kenapa, aku yakin dia akan datang hari ini. Pokoknya aku akan tunggu disini sampai dia datang.” Aku lalu membenamkan diri di depan laptop.

Satu jam berikutnya kuhabiskan untuk mengotak-atik proposal pembuatan video.

“Miaaa!” Alin memelukku dari belakang. “Hari ini ada rapat, ya? Aku ikut ya.”

Aku hanya mendengus. Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Kepala Agi mengintip dari luar. Aku sontak berdiri dan lompat-lompat kegirangan. “Agi! Agi! Agi datang! Agi datang!” seruku sambil menarik tangan Agi masuk ke kelas.

“Eh… aku…” Agi terlihat kebingungan.

Aku mendengus ke arah Fadhlan. “Tuh kan, aku bilang juga apa, Agi pasti datang!” seruku. Fadhlan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Agi tertawa. “Hahaha Mia, aku kesini karena disuruh Pak Kepala Sekolah mencari Rama, tapi dia tidak ada. Jadi maaf Mia, aku pergi dulu ya.”

Lompatanku terhenti. Aku jadi salah tingkah. “Eh, maaf… Aku…”

“Tak apa, Mia.” Sahut Agi. “Justru sifatmu ini yang membuat suasana kelas menjadi ramai.” Agi tersenyum tulus.

Aku tertegun. Aku tak pernah melihat Agi tersenyum seperti ini. Ternyata ia lebih ramah daripada yang kubayangkan.

Agi tertawa melihatku yang salah tingkah. “Tapi sepertinya… senang ya kalau kita bisa bekerja sama.” Ia berkata lembut sambil memiringkan kepalanya.

***

Sambil iseng, aku menyorot kamera ke arah Agi. Jantungku berdegup. Kalau dilihat baik-baik… Agi manis, ya. Pikirku dalam hati. Tiba-tiba Agi tersadar dan buru-buru menutupi lensa kamera.

“Maaf,” ia tersenyum malu. “Aku tidak suka. Daripada merekamku, lebih baik kita merekam halaman sekolah. Sore ini pencahayaannya bagus. Sini, biar aku yang merekamnya.” Agi mengambil kamera dariku dan pergi meninggalkan kelas. Aku mengikutinya dengan gugup.

Agi benar, sore ini halaman sekolah terlihat begitu indah. Sinar matahari menembus masuk lewat jendela dan menyinari lantai menjadi keemasan.

“Hm… sebetulnya kamu menyukai kelas kita kan? Meskipun kamu sering bolos, tapi…”

“Suka atau tidak… bagiku dunia ini bagaikan sebuah film.” Sahut Agi memotong kalimatku sambil terus merekam. “Film yang ditayangkan di depan mata. Semua adegannya dapat memancarkan warnanya sendiri kalau kita mau berusaha. Disitulah keindahannya.” Agi tersenyum, ia perlahan menyorotku.

Aku menepis tangannya. “Jangan!” kataku spontan sehingga kamera di tangan Agi jatuh. Aku membeku sejenak sebelum buru-buru memungutnya.

Tapi Agi malah tertawa. “Hahahaha… Mia lucu, ya!”

Aku tersenyum malu. “Kenapa malah mengejekku?” aku memukul pelan bahu Agi. Tubuhnya yang tinggi tegap, rambutnya yang hitam, dan matanya bersinar keemasan tertimpa cahaya. Andai saja… aku dapat menyaksikannya lebih lama…

***

“Wah tinggal endingnya, ya!” sahut Alin sambil mengutak-atik video maker. “Bagaimana Gi, kamu punya usul?” tanyanya pada Agi yang duduk di sampingnya.

“Hm… bagaimana kalau kita merekam jalanan menuju sekolah?” usulnya.

Alin mengangguk-angguk. “Kalau begitu, Agi saja yang merekam!” celetuknya.

Agi tersenyum. Dia lalu menolehku yang duduk dua kursi dibelakangnya. “Bagaimana, Mia mau bantu?”

“Iya! Ayo Mia buat last scene yang bagus!” seru Alin antusias. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk.

‘Last scene…’ pikirku. ‘Berarti, kalau video ini selesai dibuat, maka semua akan berakhir?’

***

Aku berjalan di sebelah Agi sambil mengamati taman depan sekolah. “Daun kiaranya… sepertinya sebentar lagi akan gugur. ” kataku sambil menengadah melihat daun-daun kiara yang kekuningan.

Agi menunduk. “Tahun depan… aku tak akan melihat daun kiara yang gugur.”

Benar… musim gugur tahun depan, kita semua sudah lulus dan berpisah.

Tiba-tiba sepucuk daun kiara kuning jatuh di depanku seiring angin yang berhembus.

“Gugur!” seruku spontan, menengadah dan menunjuk daun-daun kiara yang berjatuhan. “Agi! Ayo cepat rekam! Ayo cepat!” teriakku.

“I… Iya!” Agi buru-buru mengeluarkan kamera dan langsung merekamnya.

Kami berdua terpesona. “Bagus ya…” kataku lembut, memejamkan mata sambil menikmati hembusan angin. Tiba-tiba keningku terasa hangat, sebelum aku membuka mata dan mendorong Agi ke belakang. “Agi!” kataku kaget.

“Maaf,” sahut Agi, menunduk. “Aku terbawa suasana.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Bukan… bukannya aku tidak suka padamu.” Katanya.

“Kamu pucat…” Aku memegang wajah Agi, suhu badannya tinggi.

Agi menepis tanganku. “Maaf,” ucapnya. “Aku tak bermaksud melakukannya…” dia berkata lirih.

Aku hanya bisa diam selama beberapa saat sebelum aku mendorongnya. “Kamu jahat!” teriakku. Aku berbalik dan pergi meninggalkan Agi dengan mata berkaca-kaca.

Aku… Aku ingin selalu bersamanya seperti sekarang ini. Tetap bersamanya meskipun sudah lulus nanti. Ternyata hanya aku yang punya keinginan seperti itu.

***

“Mia, kemarin bagaimana?” Alin menjatuhkan tasnya dan duduk di sebelahku. “Bagus?”

Aku menunduk. “Maaf, aku… tak tahu.” Jawabku singkat sambil memalingkan muka.

Hari itu dan esok harinya, Agi tidak datang. Hingga musim ujian, bahkan Agi tetap tidak datang seharipun. Sampai akhirnya setelah masa ujian selesai…

“Mia…! Ini ada telepon dari Alin!” seru Ibu. Aku buru-buru mengangkat teleponnya. Mulanya aku tersenyum riang sambil mengangkat telepon. Tapi dalam sekejap, sekujur tubuhku terasa lemas.

“Dia… sakit keras.” Isak Alin dari seberang telepon. “Dia sudah tau hal itu… jauh sebelumnya. Dia bilang, dia akan berusaha bertahan sampai pesta kelulusan nanti… Tapi keadaannya memburuk dan…”

Seperti jantungku meninggalkan badanku dan seember air dingin mengguyur tubuhku. Aku lemas. Hatiku, dadaku, semua terasa sesak ketika mengingat sosok itu. Agi… telah pergi jauh meninggalkan daun-daun kiara yang berguguran.

Hari itu, kami berpisah tanpa sempat mengucapkan janji untuk saling bertemu. Aku kira esok akan tiba untuk kita, tapi tak pernah ada. Adegan terakhir itu… begitu menyakitkan hati setiap kali aku mengingatnya kembali. Hari itu… menjadi last scene bersamamu.

Aku menutup telinga. Aku tak sanggup mendengarnya lagi. Sejak saat itu, hingga hari ini, aku tak ingat lagi bagaimana melewati hari-hari. Aku hanya bisa… memutar hasil rekaman itu berulang kali.

***

Aku membuka pintu, sambil melangkah pelan aku duduk di sofa dan menyimpan map abu itu. Villa yang kami sewa memang cukup besar untuk seisi kelas. Bahkan beberapa murid menyewa layar besar untuk disambungkan ke DVD player.

Alin duduk di sebelahku. “Mia, kamu tak apa? Kalau tidak enak badan lebih baik kamu istirahat saja.” Katanya lembut. Aku menggeleng pelan.

“Hey teman-teman! Ayo kita putar video kelas kita!” Teriak Fadhlan, menyetel sebuah CD.

Itu video yang Agi buat. Bahkan… dia tidak ada dalam adegan apapun. Karena dialah yang merekamnya. Video itu… terlihat lembut. Sudut pandang yang ia ambil sangat indah. Mataku kembali berkaca-kaca setelah selama ini aku berusaha melupakannya.

“Aku… sama sekali tidak tahu…” aku menghela napas panjang.

Tiba-tiba Alin memegang tanganku dan menunjuk layar proyektor. Aku menoleh. Agi?

“Ehm,” kata Agi. “Sebetulnya aku tidak mau meninggalkan apa-apa. Bahkan sedikit kesan tentangku pun aku tidak mau. Tapi, ada sesuatu yang harus kuucapkan sebelum pergi. Jadi maaf, aku pinjam video ini sebentar.”

Aku tertegun, jantungku berdebar kencang.

“Mia, aku… aku menarik ucapanku hari itu. Waktu aku menciummu, bukan karena terbawa suasana. Tapi karena aku memang suka padamu. Sebetulnya… aku sangat ingin melihat lebih banyak warna-warni bersamamu. Tapi sepertinya tidak mungkin. Cuma ada satu hal…”

Air mata perlahan mengalir di pipiku, rasanya aku ingin teriak. Aku memejamkan mata tapi bayang Agi kian terlihat jelas di mataku.

“Aku ingin kamu berjanji kepadaku. Aku mohon, jangan pergi bersama orang lain melihat daun kiara di taman itu.  Meskipun kita sudah lulus, biarpun kini aku akan pergi, tapi kita akan tetap bersama… menyaksikannya. Terima kasih telah menemaniku melihat daun-daun kiara dan memberikan kenangan indah ini… Sekian.” Video itu mati dan berakhir sampai disitu.

Aku menangis sekencang-kencangnya. Dia… memang muncul pada adegan terakhir. “Kamu jahat…” aku mengusap air mataku.

Hatiku perih, setiap kali mengingatnya. Rasa sakit itu terus membekas. Itulah sebabnya aku tak akan pernah melupakanmu. Kamu meninggalkan perasaanmu yang indah padaku, melalui adegan terakhir itu…

*The End*

Advertisements