Aku sudah tak punya hati lagi. Ia sudah dicabik-cabik menjadi dua belas bagian.

Sepotong aku ikat di layang-layang, lalu aku terbangkan ke langit mendung di atas sana. Ia masih terbang dan melambai sebebas-bebasnya, namun sebuah ikatan kecil membuat ia tidak bisa lepas dariku.

Sepotong lainnya aku orbitkan mengelilingi bumi. Aku tak akan pernah bisa menggapainya kembali. Aku bahkan tak bisa melihatnya dengan mata telanjang dan mendekapnya. Tapi ia selalu ada, memberikan gravitasi hingga aku nyaris tak dapat bertahan hidup tanpanya.

Sepotong lagi aku lempar jauh ke palung laut terdalam di samudera pasifik. Dia yang benar-benar aku lupakan – atau pernah kucoba untuk lupakan, dan dia yang tak pernah mengingatku.

Sepotong lagi aku taruh di dekatku, menjadi matahari. Ia hanya sebatas pandangan, tetapi terlalu bersinar sehingga aku tak dapat mendekatinya. Ia terlalu panas sehingga aku cepat gerah karenanya.

Potongan lainnya aku semai di seluruh permukaan bumi. Membentuk pegunungan-pegunungan yang indah dan kokoh, membentengi pertahanan terbaikku. Untukku, mereka satu-satunya yang aku percaya. Meskipun tak semua bisa mendengar bisikan yang angin sampaikan padanya.

Dan aku, aku hanya mendapat sebagian kecil potongan yang tersisa. Ialah yang membuatku bertahan menjadi aku. Bukan menjadi orang lain. Ialah yang menjadi cerminan masa lalu dan masa depanku, sehingga aku hidup di hari ini.

Advertisements