Ada dua jenis orang di dunia. Ada yang seperti penyakit dan ada yang seperti obat. Ada yang menyakiti sementara sebagian lainnya berusaha mengobati. Ada yang menularkannya pada orang lain dan ada yang melepaskannya dari orang lain.

Terkadang sikap ataupun sifat seseorang bisa sangat mempengaruhi kita, menyelinap di pikiran kita dan mengendap disana. Ia lalu menuntut untuk selalu diberikan suplemen, berupa tindakan yang menyerupainya. Terkadang sikap itu baik, terkadang sikap itu buruk. Tergantung sudut pandang kita yang melihatnya. Tugas kitalah untuk berusaha memandangnya dari sisi yang paling baik.

Aku bukan seorang profesor atau peneliti, tapi aku menyadari bahwa tindakan meniru yang dilakukan oleh anak kecil itu tidak salah. Anak kecil hanya meniru dan menerapkannya, menganggap apa yang ia lakukan itu baik karena orang lain pun melakukannya.

Aku punya adik yang masih sangat kecil, masih tiga tahun dan masih sangat lugu. Ia sering meniru perkataan-perkataan orang lain yang ia dengar. Makanya aku minta semua orang terdekatnya untuk berbicara hanya yang baik-baik saja.

Tapi suatu hari ketika ‘penyakit’ itu datang, aku gak bisa mengelak. ‘Penyakit’ itu setiap hari kerjaannya hanya menangis dan menangis. Kalau tidak menangis ia akan merengek minta uang dan jajan. Kalau tidak dituruti, ia akan marah-marah sambil menangis lagi. Lalu ketika bumi telah tenang, ia kembali berkicau dengan bunyi lebih dari 75 desibel.

‘Penyakit’ itulah yang menerap di otak adikku dan pelan-pelan menggerogoti
sifat manisnya. Terbayang, kan, betapa kesalnya aku karena penyakit ini. Masalahnya, aku gak bisa apa-apa soal itu dan hanya bisa pasrah, berharap mereka (si ‘penyakit’ dan keluarganya) tidak betah dan pindah kontrakan.

Bukan hanya sampai di situ. Aku dan keluarga sangat sangat sangat peduli lingkungan. Setidaknya kami tahu bahwa lingkungan itu perlu kita jaga dan kita punya otak untuk tetap bertindak bijaksana. Dan keluarga ‘penyakit’ itu mengacaukan segalanya.

Tagihan listrik naik 120%, tagihan air melonjak drastis, polusi suara mencapai 4/5 porsi dalam sehari. ‘Penyakit-penyakit’ itu hanya tenang ketika mereka tidur…bahkan mungkin tidak juga.

Mereka mencuci pakaian dengan mesin cuci bertenaga besar (maksudnya memakan konsumsi listrik yang besar) hampir 2 hari dalam seminggu dan dilakukan sepanjang hari dari pagi hingga sore. Tak ada habisnya.

Anak-anaknya (kebetulan sekali ada 4 biji) sering membawa teman-temannya dan loncat-loncat di atas kepala kami, nyaris merobohkan pondasi rumah yang tebalnya hanya 20 cm.

Bahkan ketika aku berteriak kepada mereka “BERISIIIKKK!!! SAYA SEDANG SOLAT DAN KALIAN MENGGANGGU SEKALI!!!”, ibunya hanya melongok dari puncak tangga dan tersenyum lugu, seperti tak punya salah apa-apa.

Astaghfirullah… Layaknya kepalaku sudah tahan migrain karena mereka. Rasanya otakku sudah tak bisa menampung rasa sakit lainnya karena sudah penuh oleh penyakit mereka.

Baiklah, ini satu esensi yang bisa kalian temukan: aku hanya mencuri waktu untuk curhat 🙂

Advertisements