Cinta itu sederhana. Tak perlu banyak kata, tak perlu banyak tulisan, tak perlu pula banyak tanya. Cinta itu cukup dengan mata, hati, dan telinga. Ketika cinta bekerja, kita hanya butuh mata untuk menangkap keindahannya, kita hanya butuh hati untuk merasakan kelembutannya, dan kita hanya butuh telinga untuk mendengar bisikannya.

Dalam angan, cinta bisa saja buta. Ketika angan menghisap kesadaran kita, cinta menjadi begitu berharga. Dalam setiap angan-angan yang melintas sejenak di pikiran kita, selalu ada cinta yang terselip di antaranya.

Aku pernah mendengar orang yang berkata, “Aku tidak percaya cinta.” Itu termasuk kebohongan paling besar yang pernah aku dengar. Cinta bukan untuk dipercayai. Cinta itu ada untuk dipahami.

Lalu aku menambahkan, “Kau lahir karena cinta, bukan? Apa kau tidak menyadari seberapa besar bumi memberimu cinta dan kasih sayangnya?”

Ia kemudian diam.

Dan aku hanya tersenyum, berharap ia tahu kalau orang di hadapannya pun berharap ia ikut merasakan debaran hebat yang melanda hatinya. Rasa ini bukan mimpi, ini nyata. Meskipun pahit di lidah, namun tetap terasa manis di hati.

“Aku telah menemukan cinta itu.” Katamu, dengan senyum yang dapat menggantikan matahari.

“Lalu, akan kau apakan dia?” Aku berusaha keras menahan debaran yang kian hebat.

Kau diam sebentar, berpikir. “Akan aku ikat agar tak pergi lagi.”

Kemudian aku tertawa. Betapa lugunya sosok ini, sosok yang mengubah perspektif dan sudut pandangku mengenai kata ‘sempurna’. Ia nyaris mendekati sempurna.

Aku tak menanggapinya, takut hatiku akan meledak jika menatap matanya lagi. Lalu aku berbalik untuk pergi, sebelum kau menangkap pergelangan tanganku. Sepertinya aku tak bisa menepisnya, tanganmu terlalu hangat.

“Nah, lihat kan? Belum aku ikat saja kau sudah mau pergi.”

Sesaat kemudian aku hanya terpaku pada matamu yang indah, memantulkan bayanganku yang terkesima di hadapanmu. Kusadari mulutku sedikit tebuka karena ucapannya. Buru-buru kututup sebelum ia menyadarinya.

Angan-angan dan kenyataan hanya dibatasi oleh kaca setipis silet. Angan-angan dan kenyataan sangat peka terhadap pemiliknya, sehingga kadang sulit mempercayai apakah ini mimpi atau nyata. Sulit untuk memilih, menjadi seorang pemimpi atau menjadi sosok yang imajinatif.

Cinta hanya perlu kaca setipis silet untuk batas. Cinta tidak perlu menemui hambatan di jalan lurus tanpa belokan. Semua orang dapat menemukan cinta dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Cinta itu ada. Dan cinta itu sederhana.

Okay. This is my unapproved article for an audition and I think I just should share it to you, guys. It’s a flash fiction, by the way. Flash fiction is just something that came out in our mind when we are thinking about a theme. Just a readproof so nothing special, right? Hehehe catch you later! 😉

Advertisements